Life is single
Kedipan akan cerita hidup penuh dengan
warna cinta yang tumbuh bersemi dalam keadaan apapun. Tak pandang akan sebuah
kebaikan maupun kesalahan.. karna cinta tak akan meminta alasan akan semua yang
tumbuh atas dasar nama cinta.
Nyatanya manusia memanglah sama, mereka tumbuh bersama jiwa jiwa yang suci,
dengan dunia berpuluh puluh rupa, beribu alasan, serta jutaan sebab yang tak
pernah mengerti, KENAPA..?
Sebagian mereka mengatakan apa yang
telah dikatakan, dan yang telah ditetapkan. Bagaimana bisa menjadikan ketetapan
sebagai hukum tanpa penyelesaian. Bukankah itu sebuah hukuman bagi mereka yang
mengalaminya.. Ya, tentu saja itu sebuah hukuman, atau mungkin lebih baik kita
katakan sebagai cobaan atas Tuhan Yang Maha Esa. Setidaknya itulah yang mungkin
akan terlihat.! Oleh mata mata perasaan, oleh hati – hati mereka yang sejuk.
Ketika waktu menuakan manusia, ketika
takdir telah bersemi. Datang menyambut perubahan. Nyatanya itu adalah sebuah
kejadian yang memang tak dapat dihindari, bukankah itu namanya takdir. Lalu
mengapa mereka mengatakan itu bukanlah sebuah takdir yang tuhan berikan. Lalu
apa yang terjadi pada jalan hidupku. Jika bukan dari tuhan, lalu siapa yang
mengatur takdirku.?
Ketika cinta tumbuh akan sendirinya, kepedulian hadir
akan waktunya,, darah mengalir pada saatnya, jantung berdebar tanpa rekayasa..
disaat itulah kita mempertanyakan pada tuhan,, apakah ini yang dinamakan cinta..?
Tak ada yang peduli cerita ini terjadi
atau sebuah khayalan, hanya saja ketika hati mulai menggambarkan kehidupannya,
setidaknya inilah dalam kata kata..
BAB
1
Malam
selalu sunyi, ketenangan yang mereka cari untuk bisa menemukan apa yang mereka
cari. Mereka berfikir bagaimana bisa menjadikan keinginan menjadi sebuah
pengharapan. Apa yang mereka inginkan.? Bukankah wanita baya itu telah memiliki
3 orang anak laki laki yang gagah perkasa..! masing masing dari 3 wanita baya
yang telah memiliki anak dan keluarga tersebut terus saja termenung. Tak ingin
ada memulai membuka kata kata, tak akan ada cerita diantara mereka. Melainkan
suara hati mereka terus membaca suara hati satu sama lain. Mereka berbicara
dengan hati.? Bisakah ?
Siapa
mereka?
Sekumpulan
ibu ibu yang berkumpul mengelilingi seorang ibu yang sedang hamil muda,
tampak mengembung kecil diperutnya.?
Ageng, apakah kau siap.! Seru seorang wanita yang tampak lebih tua dari yang
lainnya.
Sepertinya
dia orang yang dituakan sekaligus orang yang dihormati daripada yang lainnya. Dari
pakaian yang dikenakanya saja telah berbeda dari yang dipakai lainnya. Mahkota
yang dipakainya sangat amat cantik, tampik bersama rumbaian yang mungil
berkilapan terkena cahaya. Pakaian yang berkilau sutera hijau ke emasan tak
menhapuskan wajah tua rentanya. Rambut yang menggelung menggores putih uban
diatas kening hingga ketengah rambut, menantang kokohnya. Semua menambah rasa
cantik mahkota hiasan perak berkilauan diwajah cantiknya wanita tua. Mungkin
dia adalah ketuanya.? Dia adalah Nyi Ragem Mekar Sari alias ibu Suri. Dia
adalah istri mantan dari kepala Cenayang golongan fraksi selatan dari laut
selatan.
Sedang Nyi Ageng adalah sebutan gelar
yang diberikan ketika menjadi golongan bangsawan priyai. Nama asli dari
keluarganya adalah ibu Suyati yang lahir ditanah Swarna Dwipa. Wajahnya yang
ayu, membuat ayah tiga anak ini menyukai watak dan tingkah lakunya seperti
seorang keibuan. Tak perlu menambah hiasan karena tak berada, wajah ayunya tak
perlu menambah riasan, sekuntum bunga kantil dan mawar merah muda yang ditusuk
konde asrahan, diatas gelungan rambut
dikepalanya cukup sudah membuat ayu tampilannya. Dia adalah istri dari seorang
ayah yang menjabat sebagai Kepala Cenayang Bagian Adat Budaya dari golongan
Fraksi selatan.
Beberapa dari wanita tersebut telah
bangun dari duduknya, “ ayo kita mulai.!
“ seru seorang wanita yang paling muda, wajahnya yang ayu asri tersimpan
kekuatan spiritul yang luar biasa dalam tubuh Ibu Ami.!
Ibu
suri mengangakat tubuhnya besar dan tua itu dengan dorongan dan menahan nafas yang kuat. Serentak dengan
ibu Ratih, seorang spiritual wanita yang tersohor akan kesaktiannya hingga
keseluruh pelosok. Tubuhnya yang besar dan gemuk tidak menghilangkan pancaran
aura asih wajah ayu-nya dan terlihat
masih muda dari usianya.
Mari kita lakukan.! Didahului ibu Suri
yang agung berjalan kedepan di ikuti ibu ratih, Nyi Ageng dan dibelakang ibu Ami. Berjalan beriringan menuju
pasenggrahan, atau juga bisa disebut sebagai tempat pertemuan pada acara acara
besar saja. Tentu saja tidak semua bisa masuk untuk melihat pasenggrahan ini,
karena dianggap suci.
Keinginan hati ageng, untuk bisa
mendapatkan anak harapannya terus bergejolak. Dalam hatinya yang dalam, ia
menginginkan anak perempuan bangsawan sebagai anak bungsunya. Nayatanya justru
3 anak dilahirkan dengan kelamin laki laki semuanya.
Awalnya kekecewaan datang dan telah
memutuskan untuk cukup 3 anak saja. Tapi apa mau dikata, tuhan masih
berkehendak lain, tuhan memberikan kembali calon bayi pada Ageng berseling 9
bulan anak ketiga nya lahir. Hanya saja kekhawatirannya kembali muncul, bukan
maksud tidak mensyukuri apa yang telah tuhan berikan, hanya saja ia
menginginkan anak perempuan dalam salah satu anak anaknya untuk bisa menemani
hidupnya. Anak yang akan menemani serta merawatnya saat tua nanti. Tak semua
anak laki laki tinggal didalam pesanggrahan keraton ini. Hampir kesemuanya
keluar mencari pendamping hidunya diluar istana keraton. Termasuk aku dan
suamiku. Hanya saja aku beruntung masih bisa ditinggal didalam istana
pesanggrahan ini, karena bantuan romo dalem. Dan tak jarang dari banyak lelaki
memilih tinggal diluar pesanggrahan, dengan pasangannya. Bahkan diluar
pengawasan dari istana keraton. Walaupun saat ini dunia telah memiliki
pemerintahan sendiri, dan siapapun yang ikut didalamnya harus mengikuti aturan
didalamanya. Tapi kami, jiwa kami, dan leluhur kami megajari kami untuk bisa
menjadi pemimpin yang baik dan bijak bagi
kaumnya tanpa menhilangkan aturan-aturan budaya leluhur yang telah turun-temurun.
Itulah sebabnya dizaman yang semegah ini, semodern ini kami masih tetap teguh,
dan kami masih sama seperti yang dulu. Untunglah pemerintah tidak menghapuskan
sistem kerajaan yang masih berlaku, karna pengabdian kami serta para Abdi
Masyarakat yang mau mengabdi secara sukarela pada bangsawan seperti kami, yang
masih berpegang teguh hatinya pada ajaran – ajaran leluhurnya. Tentu saja itu
membuat kami bangga atas apa yang mereka lakukan. Terlebih lagi mereka masih
memiliki jiwa melindungi adat tradisi yang telah lama dipegang teguh, baik itu
didalam istana ataupun diluar istana. Tentu saja istana pesanggrahan keraton
adalah tempat yang kental akan tradisi leluhur yang masih dijaga dan
dikembangkan untuk generasi generasi yang akan datang. Dan yang satu ini,
adalah sebuah tradisi yang dikeramatkan dan dianggap sakral yaitu acara
pinanggihan. Pinanggihan berasal dari kata pinanggih yang artinnya pemanggilan.
Biasanya tradisi ini digunakan oleh para raja raja terdahulu untuk memanggil
para raja raja terdahulu, untuk dimintai pendapat ataupun kesepakatan dalam
pengambilan keputusan. Acara ini hanya ada dan digunakan pada waktu yang
genting atau disaat bumi pemerintahan sedang kacau. Dan tentunya proses acara
ini wajib dikuti oleh seluruh kepala bagian cenayang dan ketua cenayang
sendiri, beserta para Selir dan Ratu. Biasanya keuntungan dari acara ini,
segala hajat dan keinginannya, walau setinggi gunung dan sedalam lautan
samudera akan dibantu oleh para leluhur, agar tercapai segala keinginan dan
harapannya. Dan sejak dahulu kala ritual ini dikeramatkan karena tuahnya yang
nyata. Itulah ritual seperti ini tetap dikeramatkan dan dijaga baik dalam
keraton.
Ketika bumi telah tenang dan merdeka,
untuk apa mengadakan rapat kenegaraan, untuk apa mengadakan ritual pinaggihan,
atau semacamnya. Nyatanya semua hanyalah cerita belaka, semua masih tersusun
rapi, tanpa ada yang memakainya kembali. Dipelajari hanya para raja raja, dan
pelatihan adat, dsb. Tak ada larangan untuk menggunakannya, dan tak ada aturan
bahwa harus raja yang menggunakannya. Hanya saja banyak dari mereka terdahulu
yang mencoba berhasil dengan kegagalan tanpa didampingi keinginan Raja. Sabdo Pandito Ratu, ya itu adalah
sebuah ketetapan dan wewenang yang ada dan dimiliki pada diri raja. Apa yang
menjadi sebuah perkataan raja adalah sebuah titah, sabdanya menjdi sumpah,
keinginan dan harapannya menjadi sebuah aturan bagi kaumnya, baik dari golongan
manusia atauapun dari golongan bangsa halus. Tapi, ada beberapa orang dan orang
orang tertentu yang dapat menguasai ritul ini, tanpa didampingi Raja. Itu
artinya tidak semuanya harus menggunakan kuasa raja. Hanya saja ini sangat
jarang terjadi.! Begitu pula yang dilakukan oleh empat orang wanita di
Palebahan ini. Bukan berarti mereka ingin mencobanya.! Nyi Ratih, adalah salah seorang wanita sakti
yang berasal dari kalangan bukan bangsawan. Ia mengabdikan dirinya menjadi
sebuah Abdi dikerajaan karna bakatnya. Sejak kecil ia memiliki kemampuan luar
biasa dalam diri spiritualnya. Konon ceritanya, disaat masih muda Nyi ratih
pernah melakukan ritual pinanggihan ini dan berhasil. Ia meminta agar diberikan
kelangengan apa yang dimilikinya serta disempurnakannya apa yang ia miliki. Itulah sebabnya ia menjadi
Spiritualis wanita yang terkenal diseluruh Pesanggrahan saat ini. Karena
ketenarannya itu dia dipersunting sebagai Selir Rendahan Kepala Bagian.
Aku tak pernah tahu, apakah aku masih
bisa melakukannya atau tidak.! Ini sudah lama Nyi.? Matanya yang menatap Ibu
Suri dengan penuh keraguan.! Lain lagi hatinya yang tidak bisa tenang, mata
fikiranya tak bisa melihat apa yang akan terjadi. Itu artinya sesuatu yang
besar akan kita alami.! Aku takut ini diluar kendali kita. Ditundukkan wajah
bulatnya hingga menekuk lekik gulungan lingkar di lehernya, tak lagi terlihat
gulungan emas mengikat dilehernya. Apa sebelumnya ada yang mati setelah
melakukan ritual ini,? Sejarahku mengatkan tidak Ratih.! Kau terlalu berlebihan
ratih, jika kekuatanmu tidak bisa melihat kedepan, itu wajar.! Tidak harus
semuanya kamu bisa mengerti. Jangan jumawang.! Setinggi- tingginya gunung,
masih ada yang melebihinya Ratih.! Aku hanya berharap sesuatu kekuatan besar
yang tak bisa kau lihat adalah sesuatu yang membawa keberuntungan bagi Ageng.!
Tegas Nyi Ragem menguasai.! Pengalamnya sebagai Ibu Suri bukanlah hiasan
belaka. Bahkan Raja – Raja terdahulu pun menghormati keberadaan Gelar sebagai
Ibu Suri.
Sedang Nyi Ragem adalah Ibu Suri yang
tertua dari Ibu Suri yang lainnya. Itulah sebabnya ia dikatakan Ibu Suri yang
Agung, karena memang yang paling dituakan diantara lainnya.
Aku kira kali ini, kau benar Nyi.! Kata
Nyi Ratih mulai memantabkan hatinya.! Aku mulai menemukan celahnya sekarang.!
Lalu Bagaimana denganmu Ageng.! Apa kau yakin.? Aku ingin kau memantabkan
hatimu dulu, karena kaulah yang akan menghadapinya sendirian.
Hati ageng yang selalu berkecamuk, tidak
tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin membatalkannya, hanya saja dia telah
terlanjur mengundang rekan rekannya dan telah terlalu jauh melangkah untuk bisa kembali lagi. Ia takut dianggap
mempermainkan yang lainnya. Di lain sisi pula ia takut anak yang masih
dikandungan muda itu terlahir sebagai laki laki kembali, dan keinginan untuk
bisa mendapatkan apa yang diharapkannya. Kekuasan yang dimiliki ageng sebagai
seorang istri dari kepala Cenayang Bagian, tak bisa menuntut terlalu keinginan,
dihadapan Ibu Suri yang Agung. Tak pernah terfikir untuk melangkah sejauh ini.
Selain itu ia juga takut melawan takdir
dari tuhan apa yang telah seharusnya ia dapatkan, selain itu pula Ageng tidak
memberi tahu apa yang dilakukannya sekarang kepada suaminya. Suami dari Nyi
Ageng memang jarang dirumah, terkadang 1 bulan sekali baru pulang, dan bahkan
berbulan bulan tak ada kabar dan kepastian.
Keinginanku semakin mantab, tak ada
pilihan lain ketika Ibu Suri yang Agung berjalan ke tengah lingkaran dan mengucapkan
kata kata penanggalung. Kata kata yang hanya digunakan sebagai pemula untuk
memanggil roh roh suci dan leluhur leluhur dahulu, akubhanya bisa menguatkan
hati, semoga apa yang menjadi keinginanku adlah keinginan yang lain juga
termasuk suaminya. Upacara terus berlanjut, suasana tenang dengan angin yang
berhembus dari laut selatan, mengoyahkan darah terus bergejolak dari atas
hingga sekujur badan. Sesekali tercium wewangian kembang setaman, serta suasana
suhu yang bergejolak panas, yang tersiram oleh angin laut yang dingin. Kini
harapanku telah datang, takkan terubah lagi sekarang. Harapanku kini telah
didepan mata. Tak peduli apa yang terjadi nantinya, aku hanya berharap sesuatu
yang bahagia akan membuat kami senang nantinya. Kuyakinkan hatiku untuk tetap
berdiri ditengah tengah lingkaran para wanita yang sedang duduk bermeditasi.
Suara gemerincing datang mengalun,
perlahan lahan terasa begitu dekat. Kini kulihat samar samar dari kejauhan
seorang wanita cantik dengan gaun yang indah, berjalan dengan anggun nya, dan
kini terlihat begitu jelas keindahannya. Ku tundukkan wajahku dengan badanku
yang bersimpuh. Kuangkat kedua tanganku diatas kening, sebagai salam
penghormatan. “ sembah sujud
sungkem, kulo aturaken.. Kanjeng Ratu” ku ucapakan dengan nada nada yang lembut. Tatapan mata yang meruntuhkan setiap
hati.
Hati kami saling bertanya antara sebab
dan musababnya. Ketika renyuhan suara rening yang bersembunyi dibalik papan,
mulai kembali berani berbunyi. Memecahkan suara keheningan yang menutup seakan
akan kedua telinga. Ketika itulah pertemuan kami dengan Kanjeng Ibunda Ratu
berakhir pula.
“ Selama daun masih mau menguning,
selama itu pula ia mengharapkan tunas hijau kembali. Tak akan peduli dirinya
walau daun terus runtuh menyiksnya tubuhnya. Membiarkannya basah kuyup, ataupun
kering terbakar oleh terik matahari. Nyatanya itulah yang terbaik baginya yang
diberikan Tuhan kepadanya, walau sebenarya ia tersiksa karnanya”
Anakku, “urip ingkang dunyo werno rupo, wetoro doro. Sak westine ingkang
manungso iso ngelakoni mati nepsu, yo iku ono manungso seng roso bathine” (
hidup didunia ini banyak rupa, dan selalu kelihatan yang indah- indah dan
bagusnya saja. Sebenarnya,. manusia yang bisa menahan hawa nafsunya dalam
segala keinginan duniawi, dialah manusia
yang kuat iman kepada tuhannya”
Tanda tanda terus terjadi, namun
kujadikan sebagai motivsi dan keyakinan. Malam demi malam bertambah kelam,
ditambah kegundahan hati yang ,mengelabu biru. Hanya menambah penyesalan sisa
dihati ini. Berharap semua kan baik baik saja, itu yang kuharapkan saat ini,
tak peduli kemiskinan yang seperti apa mendera, hanya saja jika sesuatu terjadi
pada janin bayinya, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar baginya dan
tentu saja semua keluarganya.
Kandungan yang membesar telah
menggelantung menjadi sebuah beban bagi tubuhnya yang kurus dan layu. Harapan
yang dinantikannya selalu ditunggu akan datangnya.
Aku tak akan pernah bisa bersabar akan
kedatanganmu, dalam hatinya berkata dengan lembut , seolah anak yang
dikandungnya dapat didengar ucapan kasih sayangnya. Tangan halusnya menenangkan
bayi dalam kandungannya. Hari demi waktu terus berjalan seiring senandung hati
menunggu saatnya tiba. Sentuhan kaki kecil dalam perut mulai menambah
kebahagian hati seorang ibu. Hingga pada saatnya hari itu telah tiba, Hari 9,
Bulan 9 dan Tahun 1992. Hari yang selalu dinantikan telah tiba, tida ada
keraguan dalam hatinya untuk berjuang melawan rasa sakitnya. Tapi ada sesuatu
yang berbeda dari yang pernah dialaminya dengan tiga anak yang telah
dilahirkannya. Sentuhan dalam keghaiban menguatkan pikirannya atas pertanyaan
dalam hati. Bayi begitu dengan mudah dan sangat cepat. Berjuang sendiri tanpa
ada Nyi suci, seorang dukun beranak yang dipercaya di Palebahan Keraton.
Seluruh tali placenta membelit seluruh bagian tubuh dari leher hingga kelutut
kaki. Beranggapan tetap menjaga kehangatan akan dinginya malam yang datang
dengan hembusan angin laut.
Tak ada rasa lelah dalam dirinya
melahirkan anak yang satu ini. Ia bangun dari tidurnya dan segera melihat anak
yang telah dilahirkannya. Dengan rasa terkejut dan segera ia melepaskan balutan
usus yang menjerat lehernya dulu. Ketakutan akan tidak dapat bernafas, detak
jantung mulai melepskan ketegangan dan mehela nafas pelan, seketika
kekhawatitran mulai mereda di iringi dengan tangisan bayi.
Alhamdulillah, anakku masih hidup.
Dengan segera ia tersadar, dan menghirup cairan dari lubang hidung dan mulut
anaknya. Perlahan tangan pucat mengambil usus yang membelit dalam tubuhnya,
hingga masih tersembunyi alat kelaminnya.
Kuangkat bayiku dengan kedua tangan dan
mulai melepaskan belitan placenta papa tubuh mungil merah ini. Baru satu
putaran, terhenti oleh kedatangan Nyai Suci dan anak sulungku. Segaja aku
menyuruhnya untuk memanggil dukun beranak itu. Tak lama disusul kedatangan oleh
Ibu Suri yang Agung, yang juga bergembira menanti akan hadirnya anakku. Ibu
Suri,, aku memanggilya namanya dengan rasa bahagia, melihat bayiku yang
berlumuran darah terlihat amat cantik berkilauan diterpa oleh Dian ( lampu
semprong). Dengan harapan Nyi suci melepaskan seluruh belitan ditubuh bayiku,
dan memotong ari arinya dengan sebilah irisan bambu yang telah dilumuri oleh
kunyit. Dengan segera Nyi Suci membawanya dan memandikannya ditengah kegelapan.
Hanya pancaran remang - remang dari lampu teplok yang menempel pada sebuah
tiang penyangga utama. Model rumah Joglo untuk rumah adat jawa pada saat itu.
Dengan senyum bibir tua yang telah
keriput, Nyi Suci memberikan bayiku seraya
berkata: Wajahnya cantik yo Nduk. Dengan senyum kekehnya. Aku melihat ibu Suri yang Agung, tatapanku
ini Menginginkan sebuah makna darinya. Kesepuhannya kuharapkan dapat
mengantikan posisi suamiku untuk menamai nama yang bagus untuk anakku.
Ibu Suri,, Aku senang anakku lahir
dengan selamat, aku ingin ibu Suri yang agung,
mau memberikan nama indah untuk anakku. Kira kira nama apa yang cocok
dengan nama anakku yang cantik ini. Nyi Suci tersenyum melihat kebahagian yang
terpancar dari bibir Ageng, tanpa raut wajah lelah. Jika dulu aku diberikan
anak, aku ingin sekali menamakannya dengan nama yang telah kusiapkan. Hanya
saja tuhan belum memberkatiku untuk punya anak, hingga usiaku yang serenta ini,
aku masih merindukan punya anak sendiri. Wajah tuanya dengan raut sedih,
meneteskan air mata yang mengalir dari sudut mata, mengalir tertampung oleh kantung mata yang kian menggurat jelas diwajahnya.
Ibu Suri, maafkan aku telah membuatmu
bersedih.! Ibu Suri yang agung, silahkan beri nama pada jabang bayi ini, jelas
oleh Nyi Suci.
Jika kau setuju, aku ingin memberinya
nama sesuai harapanku,“ Tribhuana Tungga Dewi” bukankah itu
nama yang indah untuk anak perempuan secantik anak mu Ageng.! Maaf Ibu Suri
yang Agung, anak dari Gusti Nyi Ageng itu adalah laki laki bukan perempuan, Ibu
Suri salah.!
Apa Maksud Nyai.? Dengan wajah bingung,
jantung ageng mulai berdebar.! Badanya mulai memanas, sedikit kekecewaan mulai
menyelimuti hatinya.
Nyai Suci..! apa yang terjadi
sebenarnya.!! dengan nada tegasnya, mengancam Nyai Suci. Nyai suci tak mampu
lagi memandangi wajah Ibu Suri yang kesal padanya,!
Iya Ibu Suri, anak dari Nyi Ageng itu
adalah laki laki, akan tetapi ia memiliki aura dan pesona wajah sepeti anak
perempuan. Hamba fikir Gusti sudah mengetahuinya jenis kelamin anak Gusti, Nyai
Suci menjawab dengan wajah menunduk hormat.! Dengan sigat tangan Ageng mengambil
bayinya, yang lelap tertidur dalam balutan kain batik sutera. Dibukaknya bedong
balutan kain tersebut dengan hati hati, karna luka tali pusarnya yang masih
basah. Dengan pandangan redup, ia mulai meyakinkan jenis kelamin anaknya.
Begitu tidak yakin, ia menyentuh dengan jemarinya. Begitu yakin dia menangis
memeluk anaknya. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya. Baginya sekarang apapun
jenis kelamin anaknya, tidak peduli baginya. Terserah, apa laki laki ataupun
perempuan, bagiku kau adalah pusaka hati ibu nak. Dalam hatinya ia menghilagkan
rasa kecewanya, selain itu aku tidak mau mengangap anakku sebagai kekecewaanku,
bagiku kau tetaplah anugerah bagi hidupku. Kau akan menjadi seperti ayahmu. Dia
terus menyanjungkan anaknya seraya menangis. Hentakan hentakan tanganya yang
tak sadar, membangunkan tangisan memecah kesunyian malam. Dalam hati, Ibu Suri
tau apa yang dirasa oleh hati Ageng. Akupun juga merasakan hal yang sama dalam
hatinya. “ Ageng,! Bersabarlah.! Tenangkan dirimu. Mungkin tuhan belum memberikan
izinnya kepadamu untuk mendapatkan anak perempuan. Akupun juga heran kenapa
bisa terjadi. Lagi lagi tuhanlah yang maha agung, yang menetukan segala takdir.
Mungkin ini adalah yang terbaik bagi anakmu kelak. Yang perlu kita sadari
adalah bahwa kanjeng ratu bukanlah tuhan, beliau juga hanyalah seorang Utusan
Tuhan juga. Kalaupun apa yang dilakukan dan dinginkannya terjadi, itu karena
restu tuhan. Kalaupun tidak, itu artinya tuhan telah memilih dan menentukan
jalur takdir anakmu tanpa perantaranya. Percayalah ageng, bukan berarti kanjeng
ratu tidak menyukaimu, hanya saja mungkin ini sudah takdir yang terbaik bagi
anakmu.
Aku akan tetap menyukainnya, Ibu Suri.!
Dia adalah anakku. Apapun yang terjadi padanya, ia adalah tetap anakku. Aku tidak menyalahkan siapapun untuk
hal ini, kalaupun aku tidak mendapatkan yang ku inginkan, itu sudah tidak
menjadi masalah bagiku. Karna inilah anak anakku.! Anak anakku yang sekarang,
nanti dan kelak. Karna aku tidak akan mempunyai anak lagi, sudah cukup bagiku
Empat anak lelaki yang gagah dan tampan. Sudah cukup untuk menemaniku hidup dihari tua.! Aku
akan menjadikan ini sebagai anak bungsuku, anak sebagai laki lakiku dan sebagai
perempuanku.
“ kecantikan dalam dirinya, walau dia
seorang laki laki sekalipun masih tidak bisa ditutupi.!” Kataku berkata kepada
Ibu Suri dan Nyi Suci dengan senyumku menghilangkan sedih dihati dengan belaian
tanganku pada wajah halus bayiku. Aku yakin kaulah yang akan mewarisi sifat
dari ayahmu, kau lah yang akan mengantikan posisi jabatan ayahmu sebagai Kepala
Cenayang,!!
Mungkin
lebih dari itu Ageng.!! Ujar wanita tua itu dengan yakin.. Apa yang Ibu Suri
maksudkan.? Anakmu bukanlah anak biasa, Ageng.! Walau kanjeng ratu tidak bisa
mengubah sesuai dengan keinginannya, tapi perlu kita ketahui bahwa anakmu ini
telah tersentuh sebagian dari diri beliau. Anakmu bisa dikatakan sebagai
titisannya. Aura yang memancar dalam
dirinya, aku yakin itu bukanlah hal yang sepele. Aku yakin itu adalah kekuatan
yang sangat besar, sangatlah besar ageng.! Anakmu akan menjadi panutan dn akan
dihormati diseluruh palebahan keraton ini. Mungkin akan sampai negeri dwipa
seberang.! Dengan muka yang serius Ibu Suri mengatakan kepada Nyi Ageng.
Benarkah yang Ibu Suri katakan.? Lalu
apa yang harus saya lakukan Ibu.? Aku takut jika seperti, cepat atau lambat
Kanda Mas Roso ( suami) akan mengetahuinya. Apa yang harus saya lakukan dengan
Kanda. Aku takut dia kecewa dengan apa yang telah kuperbuat pad anakku. Dengan
energi qi nya yang begitu kuat terpancar, akan mudah untuk bisa dilihat dan
diketahui dari mana asal usulnya. Itu adalah tanggung jawabmu Ageng.! Kau
sebagai ibu baginya harus bisa menerima kenyataan telah kau lakukan atas
kesadaranmu. Aku yakin suamimu akan memahami maksud keinginanmu. Percayalah.!
Yang aku takutkan, aku sudah terlalu
jauh melangkah untuk seperti ini. Kanda pasti tidak akan percaya apa yang telah
aku perbuat, selama dia pergi. Aku sudah terlalu dalam berurusan dengan Ghaib,
terlalu membahayakan diriku dan anak anakku.
Ibu Suri, menundukkan kepalanya. Dengan
wajah yang tidak begitu baik. Ia tidak dapat memungkiri apa yang akan terjadi
jika seseorang bermain terlalu dalam dengan keghaiban. Itu memang kenyataan,
dalam hatinya. Dilain sisi ia juga menyesal membantu Ageng, karena hatinya yang
tidk konsisten membuatnya merasa bersalah selaku pemimpin yang bertanggung
jawab atas semua yang dilakukan. Ia juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi.
Mungkin aku terlalu memuji dan menjunjungnya terlalu tinggi dari segalanya. Ia
merasakan apa yang menimpa ageng sebagian besar adalah kesalahannya. Kalaupun
ia mengalami atau berada dipihak Nyi Ageng saat ini, mungkin juga aku akan
merasakan hal yang sama. Kepedihan hatinya bertambah terluka seolah olah
menambah beban derita hidup Ageng. Hidupnya yang serba pas pasan bahkan bisa
dikatakan kekurangan bertambah pula dengan beban saat ini. Dalam hati wanita
tua ini selalu berkecamuk, air matanya mengalir lagi.
Ia menoleh ke kanan membelakangi wajah
sang bayi yang digendong dlam pelukan Ageng. Dengan badan tua yng agak
membungkuk ia menatap Dian yang tertempel di tiang penyangga tengah.
Penerangan yang ala kadarnya dengan
cahaya remang yang berusaha memancarkan cahayanya seolah olah mengerti keadaan
tuannya, dan tak ingin menambah penderitaanya dalam kegelapan malam. Mata tua
dengan lirih yang terus memandang cahaya merah memantulkan kekentalan warna,
menyuramkan penglihatan membaur tengah malam dalam dinginya waktu yang gelap.
Dian telah mati tak mampu lagi menerangi sampai tujuan, membuat kami lelap
dengan mata terpejam gelap. Nyi Suci membakar Bahar untuk wawangian didepan
teras depan, entah apa gunanya. Tapi paling tidak tak akan ada nyamuk malam ini
untuk tubuhku yang lelah tak terasa dan anakku yang cantik akan tertidur dengan
pulas. Bersama pagi kami menyambut dinginnya kabut yang terusir dengan
hangatnya mentari. Kulihat Nyi Suci sedang berbenah kamar, anakku dimana.!
Dalam hatinya terkejut mencari anaknya
dimana.? Ibu Suri masuk membawa momongan Ageng.! Anakmu terbangun Ageng, aku
membawanya..! kau terlihat masih lelah jadi aku enggan membangunkanmu.!
Aku telah memanaskan air untuk mandimu
Gusti, silahkan bersihkan diri Gusti Ageng.! Dengan posisi setengah sujud Nyi
Suci menyambut tangan Gustinya. Dengan gerakan yang sedikit paksa, dilangkahkan
kakinya dalam papahan. Tangan menekan kain yang membalut tubuhnya dengan bau
amis semerbak. Gusti, mandilah air setaman ini, air ini untuk membersihkan diri
gusti dari segala kekotoran hidup. Semoga gusti diberikan wawasan sinambungan
kaleh Gusti Kuasa. Tangan tua itu mulai mengambil gayung dari tempurung kelapa,
terlihat begitu sakral memang.!
Air hangat mulai membuat seluruh lelah
bersama aliran darah yang telah mengering. Dalam hatinya “Duh Gusti seng Agung, bersihkanlah, sucikanlah diri hambamu ini, dari
segala kekotoran hati, raga, dan bathin ini. Kuatkan hati ini dalam berjalan
digaris hidup yang kau berikan. Aku serahkan segala kebodohanku dan kekotoranku
padamu ya Gusti. Kuatkan hatiku yang lemah ini.!”
Bau amis yang mulai menyebar, bersama
bau wangi yang semerbak. Membuat segalaya menjadi imbang. Wanginya bunga, serta
buihnya sabun masih masih terus mencoba mengalahkan merahnya darah yang
mengental disela sela batu. Mari Gusti,! Kain putih diletakkan dipundak dengan
papahan.
Seketika ia terkejut melihat kamarnya
telah penuh dengan orang orang datang.! Ada Nyi Ratih, beserta abdinya Mbok
Parni, Nyi Ami dengan abdinya Mbak Rega, serta ketiga anakku yang mendekati nyi Ragem alias
Ibu suri yang membawa bayiku dalam tubuhnya yang gemuk.
Kenapa kau tidak mengabariku Ageng, kau
bisa menyuruh Abdimu memberitahuku bukan.? Sejak kapan Ageng punya Abdi.!
Sergah Nyi Ragem sari. Anaknya adalah
abdinya,! Dengan wajah bermain pada bayinya. Ageng mendekati ketiga anaknya,
denga bayinya. Wajah senyumnya membuat yang lain terheran. Dalam pikiran
mungkin Ageng akan kecewa terhadap kelahiran bayi laki lakinya, dan telah
dipersiapkan untuk memberinya support. Tapi nyatanya salah, melihat wajah ageng
yang menyambut anak laki lakinya dengan sukacita, membuat para Ibu Daleman
Agung sedikit heran, apakah Ageng telah melupakan ritual kemarin. Dalam hati para
ibu juga memberikan senyum bahagia pada Ageng.
Nyi Ageng, awalnya aku kecewa terhadap
apa yang terjadi padamu. Tapi, sekarang aku mengerti dirimu. Aku harap kita
lupakan saja apa yang telah terjadi dan lupakanlah dan buanglah jauh jauh apa
yang kau harapkan. Ageng terlihat begitu
tenang. Entahlah Nyai, begitu anak ini lahir, aku merasakan hatiku sangat
tenang. Tidak ada rasa apapun yang aku rasakan. Melihat wajahnya yang berkilau
cantik membuatku cukup memiliki seorang Setri ( anak Perempuan). Ia mengambil anaknya
dan mengecup keningnya dengan senyum bahagia. Ia ingin menyusui anaknya pertama
kali.!
Nyi suci memangil tiga anak yang
mengelilingi ageng, tanda bahagia memiliki adik baru yang menggemaskan.
Raden..! sebaiknya raden bertiga sarapan dulu, Nyai telah siapkan makanannya
untuk raden. Karyo.! Bawa adik adikmu makan di dapur.!
Wajahnya yang enggan meninggalkan adik
barunya, dengan suara yang lirih anak sulungnya menjawab: “Baik Nyi Ageng.!”
Ayo dik, mulai mengajak adiknya dan menarik tangan Silo, adik terkecilnya.
Ageng, apa kau sudah memberinya nama.?
Ya, Ibu Suri yang Agung memberikan nama yang indah untuk anak tampanku.! Ketiga
istri kepala Fraksi memandang ke wajah Nyi ragem,. Aku memberikannya nama Tribhuana
Tungga Dewa Jayawisnu Wardhana Pakuwon Hadiningrat
Sungguh nama yang indah,! Tapi Nyi
ragem, Bukankah itu nama terlalu berat bagi gelar keluarga Kanda Roso.? Aku
rasa tidak.! 3 abad yang lalu, kelaurga
dari gelar Pakuwon lah yang memimpin Istana Palebahan Keraton ini.
Itu artinya, paling tidak ia memiliki
darah bangsawan Asli Yang Mulia Gusti Prabu Agung Sukmo Ningrat. Aku hanya bisa
mengharapkan semuanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan pengharapan kita. Setidaknya itulah yang bisa
kita ambil dari kegagalan yang kita lakukan.
Nyai Suci kembali dengan badan
membungkuk, ketika hendak kekamar Nyi Ageng.! Bukan tak bermaksud mengangu
saja, lagipula siapalah Nyai Suci. Seorang wanita tua kurus tinggi dengan baju
kemben usang didadanya. Dan bukan dari darah bangsawan. Nyai suci adalah
seorang warga yang telah dianggap menjadi seorang abdi tabib dalam pesanggrahan
keraton. Karena pengalamannya sebagai dukun beranak. Nyai Suci kerap dipaggil jika
seseorang ingin melahirkaan. Selain itu, rumah Nyai Suci yang tinggal di bale
keraton, luar pagar membuat tidak begitu jauh memanggilnya datang,
Ada apa Nyai,? Dengan nada ramah Ageng
memanggil Nyai Suci,! Yang lain memandang mata dengan sinis.!
Ndak gusti, dengan senyum kecut
dibirnya, dibaliknya hatinya Nyai Suci ingin sekali mengetahui apa yang sedang
terjadi dan apa hubungannya dengan apa yang dibicarakan oleh para ibu ibu
keraton ini. Nyatanya Nyi Ami mengetahui gelagat isi hati Nyai Suci, sedikitnya
ialah orang kedua wanita yang memiliki kebathinan yang tinggi setelah Nyai
Ratih. Nyi Ratih hanya menanggapinya dengan senyuman, apa yang dilakukan oleh
Nyi Ami.
Nyai, cepat atau lambat kau akan
mengetahui tentang apa yang telah kami lakukan, tak perlu Risau. Hanya saja
kami ingin meminta tolong padamu, untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang
anak ini atau tentang apa yang kami bicarakan saat ini. Akan sangat berbahaya
bagi hidup ageng, terlebih bagi Kanda Roso selaku suami Ageng. Apa kau bisa dipercaya
Nyai.?
Apa yang bisa dilakukan oleh wanita
setua dan serendah saya ini Gusti.?
Dengan wajah dan senyum Nyai ratih kembali menanggapiya.! Aku sangat percaya
denganmu Nyai, aku tahu kau juga memiliki hati yang lemah seperti kami, aku
harap kau mau mengerti dan menolong kami.
Bicaramu terlalu ngawur Ratih.! Nyai..!!
sela Nyi ratih..! apa yang penting dari kita saat ini Nyai.? Aku tidak
mempersalahkan omonganmu Ratih. Hanya saja cara nada bicaramu menurunkan
kebangsawanan kita. Nyai Suci bukan dri bangsawan.! Memohon kepada para kasta,
itu larangan. Bagaimanapun juga kita harus menjaga martabat keluarga dan
leluhur.! Kau harus tahu tentang itu..!!
Nyai Ratih menganguk mengerti, dengan
wajah menyadari akan kesalahannya.! Kehalusan hatinya membuatnya lupa akan
dirinya. Sifatnya dari kasta bawah belum terhilang sepenuhnya, karna baginya
hidup dengan perbedaan kasta seperti itu membuat dirinya hidup seperti negara
Komunis.
Suci, aku percaya denganmu.! Jaga
mulutmu agar masalah ini tidak menyebar keseluruh pesanggrahan keraton.
Terlebih lagi dari orang orng diluar fraksi kita. Kita tak pernah tahu
kelicikan macam apa yang disiapkan untuk fraksi kita. Diluar mereka selalu
menjunjung tinggi fraksi kita, tapi didalamnya kit tk pernah tahu, hal ap yang
telah disiapkan untuk menjatuhkan kita. Selama berpuluh puluh dan hampir se
abad lamanya, fraksi selatan tetap kukuh pada kuasanya. Itu karena Ibunda ratu
ada pada pihak kita. Aku selalu berharap tidak ada apa apa.
Hari
ke 2
Hari semakin hari membuat keadaan rumah
Ageng dipenuhi dari Para Abdi Sentanu hingga Para Abdi dalem kerajaan, bahkan
dari kalangan masyarakat luar kerajaan yang hanya ingin mengucapkan selamat.
Hampir keseluruhan pengunjung dibuatnya takjub akan bayi Nyi Ageng. Keanehan
demi keanehan terjadi pada setiap pengunjung, beberpa dari mereka mengatakan
bahwa anakmu memiliki kekuatan besar dalam hidupnya, anakmu akan memimpin
kedaton pesanggrahan ini. Tapi bagaimana mungkin, sedangkan anakku bukanlah
keturunan raja pakuan secara langsung, lagipula dia juga anak bungsu. Bagaimana
bisa dia menjadi seorang Raja kedhaton ini, sedang anakku ini adalah anak
bungsu dan dari kalangan golongan bangsawan lemah seperti keluargaku. Tentu
saja, mereka berlebihan.! Berbagai macam komentar dengan nada baik diucapkan pada
anakku, terutama Para Abdi Dalem yang belum memiliki Kekuatan bathin secara
mumpuni. Mereka mengangap pancaran sinar aura yang berbeda pada anakku, adalah
sesuatu yang aneh dan jarang terjadi. Aku beruntung karena telah memilikinya.!
Andai mereka tahu apa yang sebenarnya
terjadi, apakah mereka akan mengatakan hal yang tetap sama.? Beberapa dari Abdi
sentanu Kerajaan yang telah Sepuh, memilih diam menghadapi fenomena ini. Mereka
sendiri belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Satu dari ketakutanku adalah bagaimana
jika seseorang mengetahui fenomena ini, dan mengatakan hal ini pada suamiku.!
Setiap para daleman agung yang tinggal di istana dalam berkunjung selalu
membuatku waspada dan khawatir. Terlebih lagi mereka selalu menanyakan apa yang
sebenarnya terjadi.? Aku hanya bisa menjawab, apa yang terjadi denga anakku.?
Dengan bertanya kembali seperti itu akan membuat diriku dalam posisi aman.
Entahlah Ageng, aku merasa ada yang
berbeda dengan anakmu.! Aku bisa merasakannya dengan pasti, bahwa Anakmu
memiliki sukma Wanita bukan Pria. Hanya saja kenapa dia memiliki jasad sebagai
anak laki laki. Dan yang aku rasakan, sukma bayimu bukanlah sukma bayi pada
umumnya. Aku bisa membedakan getaran energi lembut yang dipancarkan dalam aura
sucinya bayi. Tapi anakmu berbeda Ageng. Anakmu sudah mampu memancarkan energi
Qi nya sendiri. Untuk seukuran bayi seharusnya belum bisa memancarkanya sendiri
tanpa ada perlakuan apapun. Energi yang dipancarkannya juga sangat kuat.
Bagaimana ini bisa terjadi.! Ungkap kakang Dorot.
Kakang Dorot adalah sebenarnya msih
memiliki hubungan kekerabatan dengan kanda Roso, karena berasal dari satu
Eyang. Kakang dorot juga berasal dari Fraksi Selatan. Tubuhnya yang tua masih
terlihat energik. Wajah bersihnya dengan kumis dan janggut putih yang telah
memanjang tertata rapi, masih tampak bersinar menandakan kesehatan selalu
bersamanya. Bagaimana tidak, dia diperintahkan dan dipercaya untuk bisa
mengabdikan dirinya Di Istana Keraton sebagai Kepala cenayang Bagian pengobatan
dan kesehatan Istana.
Semua yang berkumpul yaitu para Abdi
sentanu melihat keheranan. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa hal seperti
ini bukanlah hal pertama kalinya terjadi.! Biasanya ini terjadi pada anak anak
raja terdahulu, yang dipercaya membawa perubahan besar pada masanya. Biasanya
hal seperti ini terjadi telah direncanakan sebelumnya.!
Semua menoleh pada Kakang pati, termasuk
mata ageng yang mulai was was.! Apa maksudmu kakang.? Tanya Kakang Dorot.
Walaupun Kakang pati masih muda, tapi kakang pati adalah kakak seorang selir
raja, yang memimpin bagian bagian di istana dalam.
Ya, kang.!
Tidak semua anak raja mengalami hal yang
seperti ini,! Contohnya Putra mahkota serta pangeran lainnya, tak ada satupun
yang seperti anak ageng.! Anak seperti ageng ini adalah anak Pinanggihan. Hanya
anak seperti itulah yang bisa terjadi hal hal seperti ini. Begitupun anak raja
sekalipun.!
Tapi, tak mungkin Ageng melaukan hal
seperti itu.? Aku yakin Ageng tak akan mampu,? Tak ada yang tak mungkin paman.?
Sergah keponakannya.!
Kakang dorot menyinari tatapan mata
Agemg,. Ageng apa kau melakukan ritual pinaggihan.? Apa kau mampu
melakukannya.?
Jika kakang saja tidak bisa, sedang kanda
roso pun tidak mampu, bagaimana bisa seorang anak rakyat jelata seperti aku
bisa menguasainya.! Aku hanyalah bangsawan priyai, jadi mana mungkin aku bisa
melakukannya.!
Semua menunduk, mereka berfikir apa yang
dikatakan Ageng adalah masuk akal.!
Aku hanya berharap hal baik akan menimpa
anakku, yang kuinginkn hanyalah hidup tentram dan nyaman dengan keluarga serta
anak anakku. Tak masalah bagiku dia laki laki atau perempuan atau yang kakang
katakan sekalipun. Karena yang kami cari hanyalah ketenangan serupa. Aku tak
akan memepermasalahkan hal ini.!
Semua kembali tersadar dari apa yang
mereka lakukan. Sudah terlalu jauh mereka berfikir. Baiklah ageng, aku
mengerti.! Seharusnya kita berbahagia disaat saat seperti ini.! Andai suamimu
ada disini, mungkin kebahagian yang kau rasakan kan berbeda, Nyi ageng.! Suasana yang mencoba dipecahkan.!
Hari ke 3
Hari hari setelah hari ketiga, ageng
sendiri merawat seorang bayinya dan ketiga anaknya. Rumah yang kemarin ramai,
tampak sepi sepi saja. Terkadang seseorang datang seorang Nyai dalem,
memberikan makanan untuk anak anak ageng, dan sesekali ingin menggendong anak
ageng yang manis. Semua dilakukan atas keprihatinan seorang wanita yang hidup
seperti tanpa suami, dengan mengurusi ke 4 anaknya. Tubuh ageng yang terlihat
ramping menunjukkan tulang atas dadanya. Badan yang belum pulih tak mungkin ia
paksakan ke sawah untuk bekerja. Kulit merah merona anaknya tak sanggup ia
tinggalkan, baginya melihat keindahan anaknya, sudah kenyanglah itu. Hanya saja
ia tidak tega dengan ke tiga anaknya yang lain. Dia butuh makan, anak
sulungnyaa selaku yang tertualah yang sekarang menggantikan ayahnya.
Apa dayaku selaku orang tua, tubuh
keringku ini harus berbuat apa.! Aku hanya berarap kanda roso bisa pulang
secepatnya. Dalam benakku, sebentar lagi kanda akan pulang. Tak akan lama lagi.
Aku yakin kanda juga ingat kandunganku, aku juga yakin kanda juga bisa
memprediksi kapan kandunganku akan lahir.
Tuhanku yo Gusti. Mugi diberikan Rezeki
untuk suamiku, kesehatan baginya.!
Panas yang terik hari ini membuat kami
sekeluarga kepanasan, beberapa kelapa muda ku pecahkan untuk mengambilnya
airnya yang segar. Sesekali anakku kuberi lapisan lembut daging buah kelapa
muda (dogan), dan sesekali ia tersenyum seperti ia menyukai. Kenakalan kakaknya
mengangu adik kecilya membuat kami tertawa riuh. Tidak seperti biasanya, hari
begitu panas hingga air kelapa muda yang dituang wadah kendi habis tak tersisa.
Kakak belum pulang Di,! Kamu jemput
kesawah ya.! Ini sudah terlalu siang, mungkin kakakmu sudah terlalu lapar. Kau
bawakan saja dia makanan, nanti kau ajak pulang ya,! Ambillah didapur Di, sudah
ibu siapkan.
Adek mau ikut,.! Menggelengkan kepala
beberapa kali, dan asyik menyantab kelapa muda.
Sendiri saja ya.!
Ya, mak.! Dengan sekantong plastik hitam
yang ditali pada lengan tangan kanannya, siap berangkat dengan memakai topi. Ia
keluar dengn menyalami tangan Ageng, dan mendorong kening adiknya sebagai salam
untuk kakak tertua, kejahilan kakaknya itu, membuat tangan yang habis
disalaminya memukul bokong kakandanya karna kesal. kadang membuat ibunya merasa
miris, terhadap kejahilan yang terlalu berlebihan. Apalagi baru berumur 4 hari.
Mak, berangkat mak. Assalamualaikum.!
Wa’alaikum salam.!
Berapa selang waktu berlalu, aku
mengangkat kakiku untuk pergi ke kamar.! Dari kejauhan aku mendengar suara adi.
Teriakan semakin jelas mendekat, menderu meneriakkan suaranya. “ Mak, Bapak
Pulang dengan kakak,.!” Ber ulang ulang kali.
Dengan bangga hatiku, aku keluar
menyeret tangan anakku yang tengah duduk menikmati kelapa mudanya..! terbersit
ketakutan akan peristiwa yang telah terjadi akan lama kepergiannya, tapi hilang
denngan segala rasa kerinduan yang begitu mendalam.
Suara jeritan itu mengangu suasana
ketenangan kedhaton. Tentu saja membuat penghuninya penasaran, akan tingkah
yang tidak beradat.
Apa yang terjadi..! suara tegas nan
berat dengan nada kewibawaan seorang abdi sentanu.
Tidak ada apa apa paman, kanda baru
pulang.!
Aku tahu kau senang,! Tapi tidak seperti
itu kau tunjukkan. Kau harus ajarkan pada anak anakmu bagaimana kehidupan kita
yang sesungguhnya.! Itu sangat tidak diterima dalam palebahan ini. Dengan nada
yang agak merendah dan pemakluman kembali masuk dalam pintu belakang rumahnya.
Tak menjadi pikiranku, terserah orang
lain menyambut kanda atau tidak. Cuma aku berfikir tindakan tadi memang
melanggar aturan. Tentu saja itu salah. Aku juga yakin sebenarnya semuanya juga
senang dengan kepuolangan kanda. Mungkin rasa kerinduanku dan anak anakku yang
terasa begitu lama, terluapkan sudah.
Apalagi paman Joyo juga masih
berkeluarga satu Fraksi dengan keluargaku. Aku hanya perlu meminta maaf
kepadanya nanti, anggapku dalam fikiran segera kutepis rasa bersalah itu.
Aku ndak mungkin harus berlari mengejar
kanda, aku harus bisa menjaga sikapku sebaga wanita kedhaton. Dengan rasa kaki
yang gatal ingin berlari, kucoba untuk bertahan. Aku baru saja berbuat
kesalahan, tak mungkin aku mengulanginya lagi. Aku bukan wanita baru disini.!
Begitu dekat, rasanya aku ingin berlari
menyambutnya, namun kucoba kutepis dengan senyum air mata. Dalam hati, aku juga
merasa menyesal dengan diriku. Biasayan aku selalu berias dan mempercantik
keadaanku sebagai wanita kedhaton, tapi nyatanya saja aku belum mandi dari pagi
tadi. Pakaian yang lusuh, rambut yang tak tergelung rapi, seolah mengibaratkan
aku hidup dalam dunia penderitaan.
Ya allah,,! Apakah ini pertanda
kepulangan kanda.! Meskipun begitu aku berharap kanda berfikiran begitu padaku,
agar kanda tidak pergi lagi dan hidup seperti yang lainnya.
Akhirnya aku bisa menahan diri, ketika
kanda menyapaku dan menciumku. Air mata yang rasa ingin menangis juga, tak mau
berhenti beriringan dengan suara lirih yang aku layangkan untuk hati kanda.
Wajahnya yang dulu putih bersih dengan rambut halus dipipi menyambut kumis yang
ditata rapi, janggutnya yang menawan menambah gairah dan rindu yang meledak
ledak, kini menjadi pipi yang memerah akibat sinar matahari, wajahnya yang
menghitam masih memancarkan menawan dalam wajahnya. Rambut dipipi yang dulu
indah dilihat serta kumis dan janggut menawan indah yang dipotong dengan hati
hati telah menjadi, bintikan bintikan hitam bulu yang tercukur rapi. Tak
mungkin ada waktu untuk mengurus dirinya, apalagi dengan bekerja. Tapi justru
membuat dirinya terlihat lebih maskulin dan bergaya. Walaupun agak sedikit
berkurang kewibawaannya namun tak mungkin aku berani mengurangi rasa cinta ini
untuk suamiku.
Aku memegangnya dan merangkulnya
berjalan menuju rumah,! Aku dengar kau hamil dek.!! Mana bayimu..!!
Dengan cepat aku menunjukkan tanganku
pada tempat tidur kecil yang telah usang, berubah warna. Dengan senyum kanda
melihat TRIBHUNANA tidur dengan lelap. Aku bisa melihat kanda begitu bahagia
dimatanya. Lengkaplah sudah kebahagian hatiku..
Diangkatnya Hana, dengan tangan kasih
sayang.! Senyum yang timbul disela tidurnya membuat kanda bertambah gairah
senyumnya..! cantik sekali anakku ini..!
Mendengar kata itu, aku bingung sontak
apa yang terjadi nanti..! kanda,, Hana laki laki bukan perempuan.!!
Benarkah..!! justru tertawa terbahak bahak dengan kuat, hingga membuat Hana
terbangun dari tidurnya. Kaget lalu menangis..! dia menyerahkan padaku, dan
diam. Dengan senyum gembira aku justru malah dibuat heran dengan kanda. Kenapa
kanda tidak seperti yang lainnya, begitu banyak orang orang yang menyanggalnya
ini aneh, tapi kenapa kanda malah kegirangan. Aku bahagia dan berusaha menepis
rasa ketakutan itu, tapi rasa aneh tetap saja muncul..
Tangan jailnya, tetap saja ingin
mengangu anak nya. Bibirnya yang manis seperti wanita yang menawan terus
dicubit manja dengan gemasnya.. membuat Hana tergangu dan menangis kembali.
Oh ya, Hana..!! itu namanya.? Dengan
nada bertanya dengan wajah gembiranya padaku.?
Ya, kanda.!
Dari Siapa.?
Dari Ibu Suri yang Agung.! Apa dia
sering mengunjungimu.? Bagaimana dengan Gusti Agung.? Apa dia juga datang.?
Ya, Gusti Agung juga datang dengan Ibu
Suri.!
Aku harus datang ke Sawung Pitu malam
ini, untuk berterimaksih dengan Ibu Suri.!
Apa aku harus ikut kang.? Apa menurutmu
kau harus tingal dirumah.? Lalu bagaimana dengan anak kita.? Apa dilarang
membawa anak anak kesana.?
Ageng senyum mengerti maksudnya.’
Siang yang mulai kalah, seiring
tumbangnya matahari. Mengalahkan juga panas yang seolah menantang air malam..
suasana lingsir membuat kami merasa nyaman, untuk pergi.! Masih terang untuk
dilihat, namun tidak begitu terang,! Entah,, seharusnya ini sudah gelap.! Senja
dengan abu awan yang merah menyala di ufuk barat , membuat kami menunjukkan
jalan ke Sawung Pitu.
Ketika senja awan merah juga mengakhiri
perjuangannya, gelap mulai mendatangi kami, tertepis dengan lampu Dian
perempatan jalan yang mencoba membantu. Tiap tiap perempatan diberi penerangan
lampu Cublik dengan dibuatkan rumah kecil seperti rumah sesaji untuk umat
hindu, dengan atap ijuk agar tidak mati dengan hujan.
Begitu, agak jauh rumah dari sawung pitu
ketempat palebahan. Sawung Pitu adalah komplek/paviliun untuk keluarga para
raja saja. Tidak ada golongan apapun disitu, melainkan perwakilan perwakilan
yang diajukan untuk menjadi selir selir raja serta dayang dayang utama.
Kami memasuki gerbang menuju ke Kedhaton
sawung Pitu, tampak 2 orang berpakain ala sorjan, berjaga di dalam gerbang.
Mendekati kami, tak perlu diberitahu.
Badan yang berjalan membungkuk dan wajah yang menuduk tanda dia adalah atasan.
Senyum adalah tanda mereka mengenali siapa kami.! Seseorang datang dengan
pakaian yang lebih rapi, atasannya.. dengan pakaian ala jangkep resmi
membuatnya berjalan pelan terlihat begitu anggun dikejauhana malam. Dengan
gerakan yang semakin cepat menghampiri kami, dan sesegera mengucapkan salam
penyambutan.
Selamat datang kembali Kanda, Kanjeng
Gusti.!
Begitu tak sembarang orang berani
memanggil kanda, akibat dari seseorang yang telah tak asing lagi.! Ketua para
abdi daleman agung. Sudah dianggap sebagai adik sendiri.!
Suhyo bagaimana kabarmu.?
Saya terlihat begitu baik baik saja,!
Bagaimana dengan kanda.? Kanda baik baik
saja disana.?
Ya aku baik baik saja.!
Seketika kepala Suhyo merundukkan kepala
kepadaku, dengan tangan yang menyambut sembah dikepala, dan melangkah mundur
kecil 2 langkah, itulah tanda sebagai
penghormatan.
Bagaimana bisa kau menghormati istriku,
tapi kau tidak menghormatiku..!!
Hahahaha... suara gelak tawa memerangi
kesunyian malam..
Abdi, ambilkan 3 tandu untuk Kanjeng
Gusti.!
Nggeh,, Ndoro agung..!! dengan tangan
sembah dan berjalan mundur segera membalikkan badannya, untuk segera mengambil
tandu dan bala bantuan.
Terimakasih Suhyo.!
Ah tidak mas,, Ibu Suri yang Agung telah
berpesan pada kami untuk menyiapkan tandu bagi keluarga Fraksi Selatan yang
belum memiliki Kuasa Abdi tandu (para dayang dan Abdi).
Menunggu sesaat,, tandu mulai datang
dengan bantuan abdi yang banyak jumlahnya.
Mula mula tandu besar dengan atap kuning
emas nan elok serta diringi dengan Kuasa abdi tandu, mempersilahkan masuk
kanda..
Monggo ( silahkan) masuk Kanjeng Gusti.,
dengan suara yang pelan dan hormat yang luwes.
Masuk duluan dan berputar kembali ke
dalam, diringi dengan Ageng dengan tandu yang sedang namun tetap indah, masuk
bersama Hana dan Silo duduk disebelahnya.
Dan tandu ketiga, di masuki oleh kedua
anaknya Adi dan Cipto karena badannya yang lumayan sudah besar.
Semuanya berjalan beriringan, dikawal
oleh barisan abdi dengan rapi.
Suasana sangat hening didalam tandu,
karna terbuat dari papan tebal yang diselimuti oleh kain sutera yang indah.
Beberapa lubang corak sebagai ventilasi, sekilas terlihat para dayang berjalan
beriringan.
Suasana gelap dalam tandu, terlapisi
oleh pancaran lampion yang dibawa oleh para dayang, yang mencoba masuk
menerobos ventilasi dan menembus kain sutera tipis dan lembut.
Cukup untuk bisa dikatakan luar biasa di
dalam keadaan Kedhaton Sawung Pitu. Benar benar kehidupan yang sangat megah..
Aku tidak akan bisa datang kesini jika bukan
karena kanda Roso.! Tanpa kanda roso, terlihat benar rendahnya jabatanku di
istana ini..
Walaupun tidak semua orang bisa memasuki
tempat ini, namun paling tidak sekarang aku bisa melihat diriku dan gelar apa
yang ada padaku saat ini.
Suara hentakan pelan, menyadarkan
khayalanku. Kulihat wajah sinar yang masih menyimpan manis dalam tidurnya,
tidak membangunkannya. Aku mengecupnya
kembali dan menambah ke nyeyakan tidur bayi nya.
Apa yang terjadi diluar.?
Gusti Putri Ageng, silahkan turun..
Gusti sudah sampai ketempat Sawung
Pitu.!
Aku mulai menyuruh Silo keluar dahulu,
membenarkan serta merapikan baju Bindaru biru muda yang kupakai. agar terlihat
lebih rapi. Telah lama aku tak memakainya, terakhir ketika kanda ditunjuk
menjadi seorang kepala adat, acara resmi. Baju Bindaru adalah baju yang dipakai
untuk pertemuan pertemuan terhormat atau bisa dikatakan untuk kalangan atas
saja, yang bisa memakainya. Tapi seharusnya ketika seseorang telah dinobatkan
menjadi seorang punto dalem, harus memakai baju Bindaru untuk perempuan dan
memakai Jangkep lengkap untuk yang laki laki.
Perlahan kubuka tirai sutera, melihat
kanda telah menungguku didepan altar. Kusambut tangan kanda, dan kuajak Adi dan
Cipto dengan dibelakang. Adi, kau jaga sikap adik adikmu ya,.! Jangan
berlebihan jika didalam, dan ikuti aturannya,.
Apa kau tidak mengajarkan kepada
mereka.?
Aku merasa itu sangat menekan jiwa, jadi
aku ajarkan kepada mereka yang disukainya saja.
Tak apa, tak perlu khawatir.? Gusti
Agung dan Ibu Suri akan memakluminya. Kau tidak perlu tegang.. santaikan
dirimu, dan buat dirimu secantik mungkin..
Senyuman gurau, mengiringi masuk kedalam
aula pertemuan, dituntun oleh para dayang Kedhaton,
Kepala dayang, bagaimana kabarmu,? Kanda
menanyainya.
Aku baik gusti, tugasku melayani Gusti
Agung. Jadi aku tidak diperbolehkan sakit.! Dengan senyum kecil dia menjawab,
dan melirik melihatku kemudian menundukkan kepalanya, sebagai penghormatan.
Lama sekali tak bertemu denganmu Gusti
Ageng.?
Menjawabnya dengan senyuman manis..
Silahkan duduk dan tunggu yang mulia
Gusti di sini,.?
Jika gusti membutuhkan sesuatu, silahkan
panggil dayang disini.! Aku harus kembali ke kediaman hamba. Memberikan hormat
kambali, dan segera memutarkan tubuh tuanya, yang terlihat masih kuat.
Terdengar suara penjaga mengumandangkan
kedatangan Kanjeng Gusti Agung.!
Gusti Agung telah datang..!! di iringi
suara Gong, yang menandakan semua harus berkumpul, untuk memberikan
penghormatan.
Seluruh Dayang dan para Punto Dalem
datang memberikan hormat, duduk berjejer di iringan jalan seraya memberikan
hormat.
“ Sembah, Hormat kawulo Kanggem Kanjeng
Gusti Agung” tutur kepala Kasim yang menguasai seluruh dayang dan punto daleman
agung jumenengan. Suaranya terdengar lirih dari luar, namun jelas ku dengar
dari dalam. Salam hormatnya mewakili seluruh istana para dayang dan para Abdi
dalem.
Seraya menoleh memberikan aba aba untuk
memberikan hormat, dengan menundukkan kepala kepada seluruh para dayang, yang
diperjelas dengan Kepala Dayang serta Kepala Abdi Dalem yaitu Kang Mas Suhyo.
Berjalan dengan di iringi para dayang
Pengawal khusus, berjalan dengan amat hati hati dan anggun, apalagi menggunakan
pakaian yang amat sempit yang terlalu
membatasi keleluasaan gerak. Begitu dengan yang Mulia Ibu Suri, berjalan
beriringan dengan menggunakan baju Bindaru dengan Hiasan Corak yang Indah.
Hiasan Konde mahkota Emas perlambang
sebagai Ratu dari Istana Kedaton, menambah gemerlapan menyilaukan mata, sangat
indah. Tubuhnya yang tua tak bisa ditutupi, namun kharismatiknya tak bisa untuk
dihindari, sepertinya Dewi Pengasih selalu ingin bersamanya.
Menghadap pada kepala Kasim.’
Kanjeng Gusti Agung,’
Kanjeng Gusti Suroso dengan Istrinya
telah menunggu Gusti Agung dari tadi.! Apa Gusti akan menemuinya.??
Ya,’ antar aku kesana.!
Nggeh, Gusti..!
Dengan tangannya mengacungkan jempol dan
menggeser bahu tangannya, untuk mempersilahkan yang tertua terlebih dahulu.
Dengan badannya yang membungkuk mengikuti dari belakang, diikuti oleh dayang
Khusus Pengawal. Berakhir seluruh penghormatan dan kembali ke kerja bagian
masing masing, dikomandoi oleh kepala dayang.
Muncullah Kanjeng Gusti dengan Ibu Suri
yang Agung di iringi puluhan pengawal dayang dan Abdi dalem terlihat di lubang
lubang tatah corak di bilik papan. Kanda langsung tegak dari duduknya, dan
mulai aku tegakkan tubuhku dengan tergopoh mengendong bayi. Gusti Agung datang,
cepat berdiri.!!
Aku menyuruh anak anakku, yang tengah
asyik bermain baju baru mereka dan menyantap buah buahan yang telah disediakan
dimeja.
Dengan seadanya aku mencoba merapikan
baju Bindaru yang kukenakan dengan keterbatasan tangan kanan, tangan kiri
menggendong Hana kecil yang masih tengah asik tertidur. agak susah karna
bajunya sendiri memang sangat tebal berlapis lapis.
Pintu bilik dibuka seluas luasnya.!
Kanda menyambutnya dengan senyuman,
namun diikuti dengan pemberian hormat.
Bagaimana keadaan Yang Agung.?
Aku baik baik saja, Roso.! Lama tak
bertemu denganmu.! Sahabatku mengatakan aku harus menjagamu dengan benar
benar.!
Kanda roso tersenyum menanggapinya.!
Gusti Agung telah menjagaku dengan sepenuh hati. Do’a Gusti yang membuat ananda
masih hidup saat ini. Terimakasih Gusti masih menggangap Ayahanda sebagai
Sahabat Gusti.
Aku memintamu jangan pergi lagi.!
Tetaplah di istana tua ini bersamaku.!
Hiduplah tenang di istana politik yang kejam ini dengan keluargamu.
Lama sekali aku tak melihat cucu cucuku,
tak terasa sekarang telah tumbuh besar.! Melihat Adi, mengangukkan kepala.! Dan
cipto mengikutinya.!
Tingkah ini membuat Gusti Agung tertawa,
terlalu banyak hal hal yang dilewatkan selama ini. Istana keraton membuatnya
lupa akan keadaan semuannya. Politik yang lembut, kasar, serakah, kejam, serta
halus membuatnya terus waspada mengawasi jalannya istana keraton.
Keadaan keraton membuatku buta akan
keasadaranku.!
Kanda,! Suara lemah lembut memberikan
kekuatan pada yang mengeluh.!
Yang Agung, harus tetap tegar dan
menjalankan kewajiban sebagai raja di istana keraton ini.! Itu lebih penting
daripada harus memikirkan anak anak hamba.! Senyum bahagia.
Ayo.!
Aku ingin mendengarkan ceritamu disana.?
Ceritakan padaku apa yang kau dapatkan.?
Dengan semangat mengajak duduk
menghampiri kursi.
Aku menyembah bungkuk sekali untuk
memberikan penghormatan pada Yang Agung.!
Dengan posisi tersebut, aku menggendong
anakku dan terbangun dari tidurnya. Karena terkejut Hana menangis, terdengar
tangisannya yang memilukan hati. Suaranya yang jernih mengundang kepiluan yang
mendengarnya.
Melihat adiknya menangis, tingkah Cipto
kembali urak urakan. Dia naik kekursi dan menyentuh kening adiknya. Aku
terkejut dengan apa yang dilakukannya, namun apa yang terjadi.
Disentuh oleh kakaknya, Hana terdiam.!
Ku urungkan niat memarahinya.!
Semuanya menjadi tersenyum melihat hal
itu.!
Itukah anakmu.?
Itukah bayi yang membuat gempar di
istana keraton ini.?
Aku ingin melihatnya,! bukankah dia
sangat manis katamu.? Menoleh ke Ibu Suri.
Ageng.! Yang mulia ingin melihatnnya.
Bolehkah aku menggendongnya.?
Ageng berdiri dan berputar memberikan Hana
ke Ibu Suri Yang Agung.
Ibu Suri membawanya, namun mungkin tidak
nyaman didekapan ibu suri, sehingga menangis kembali. Ibu suri mencoba
menenagkan Hana, dan memberikannya ke Yang Agung.!
Dengan hati hati Gusti Agung
menggendongnya, dengan senyumnya yang lucu serta janggut putihnya yang
ditempelkan ke tangan Hana, ingin membuat kelucuan.
Terlihat senang tampak diwajah Gusti
Agung menggendongnya.!
Anakmu memang berbeda.! Benar benar
sangat berbeda.! Wajahnya sangat membuat tenang hatiku. Entah kenapa biasanya
aku tak seperti ini.? Wajahnya sangat menawan sekali.? Sayang dia laki laki.
Jika tidak, akan aku jadikan dia sebagai istri dari Wijoyo.!
Dengan senyum terkekeh ia meriuhkan
tawanya melihat Kanda Roso yang tertawa malu.!
Tangan Hana menarik janggut Yang Agung
yang putih panjang, yang ingin mencari perhatian dan membuat Gusti Agung
menoleh padanya.! Namun tawa tersebut, sontak hilang ketika tanpa sengaja Gusti
Agung melihat sesuatu berkilau hijau muda di kening Hana, tepat diantara kedua
alisnya.! Sinar yang muncul tersebut berubah menjadi kristal yang indah
dikeningnya.! Tampak tak begitu asing dengan kristal tersebut.!
Secara tiba tiba kristal tersebut
menghilang kembali dikening Hana, dan mata Hana berubah memancarkan sinar hijau
sekilas.
Kejadian ini membuat tubuh Yang Agung
gemetar, tubuhnya bergoyang goyang tak bisa menerima kejadian diluar kepala yang
terjadi padanya.! Ia memberikan Hana kepada Ibu Suri.!
Melihat wajah Gusti Agung, semua menjadi
bingung. Semua mata memandang kepadanya, termasuk Adi dan Cipto. Bocah 2 itu
tak tau apa yang sebenarnya terjadi, mereka masih memegang makanan ditangannya
dan tengah asyik melanjutkan makan nya.
Kanda, apa yang sebenarnya terjadi.?
Tanya istrinya.
Tidak apa. Tidak ada apa apa.!
Semua masih menyisakan kejanggalan
dihati, termasuk Ibu Suri Yang Agung.! Dalam hatinya ingin mengklarifikasikan
kejanggalannya nanti.
Apa kanda sedang tidak sehat.? Apa perlu
aku memanggil dayang.?
Tidak, Ragem.! Tidak perlu.
Anakmu sangat tampan, dia memegang
peranan besar dalam kehidupan ini. Aku berharap dia terdidik menjadi anak yang
baik.!
Mulai timbul senyum, diwajah Ageng atas
pujian dari Yang Agung.
Namun yang lain masih merasa penasaran,
karena wajah Gusti Agung masih menyimpan wajah keheranan bukan wajah bahagia.
Namun ageng tidak mau berfikir tentang itu, baginya rasa penasaran yang selama
ini tak diketahui tentang keanehan yang terjadi pada anaknya, paling tidak
terkuak sedikit dari Yang Agung.
Apa pertemuan ini masih ingin Kanda
teruskan.?
Aku pikir kesehatan kanda tengah menurun
karena kelelahan.? Aku akan memanggil dayang.! Dengan sigap Ibu Suri memanggil
para dayang, hingga Gusti Agung tak sempat untuk melarangnya.! Ia hanya melihat
tindakan istrinya yang begitu cepat, tentu saja membuat dirinya merasa heran
dengan tingkahnya.
Kepala Kasim.! Kau diluar.!
Segera memasuki dengan jalan berjongkok.
Jalannya begitu cepat seolah telah tahu keadaan dari nada suaranya.
Nggeh, gusti.! Saya disini.
Panggil segera Abdi tandu untuk membawa
Kanjeng Gusti Agung kembali ke biliknya.
Nggeh Gusti.!
Berjalan kembali memutar badannya, dan
segera memanggil kepala Abdi Punto Dalem.
Kepala Suhyo.! Dengan suara keras ia
berteriak diluar bilik.
Yang dipanggil segera datang, dan
memberi Hormat.! Ada apa Ndoro kasim.?
Segera bawa tandu yang mulia kemari.
Beliau ingin kembali ke biliknya.
Ya,.? Apa ada sesuatu terjadi.? Kenapa
cepat sekali.?
Aku sendiri tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi.? Aku diperintahkan Gusti Putri untuk menyuruhmu memanggil
tandu.!
Ini membuat Suhyo heran dan bertanya dalam
hatinya. Apa yang terjadi didalam.? Apa Gusti Agung marah dengan Kang Mas
Roso.? Dalam hatinya mencoba menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Apa lagi yang kau tunggu.! cepat
lakukan.!!
Suara bentakan keras, membuatnya
terkejut dan sadar akan tugasnya.
Ia, siapkan saja Yang Agung. Aku akan
membawanya kemari segera.!
Kepala kasim kembali dalam bilik
susukunan untuk menemui Prabu.
Tandu telah disiapkan, Gusti.!
Kanda harus istirahat. Kanda harus
kembali ke kamar kanda.! Sebaiknya pertemuan ini ditunda dulu. Kita bisa
membahasnya lain waktu. Benarkan Ageng.?
Yang ditanya menoleh ke suaminya.
Keadaan Gusti jauh lebih penting.! Jawab
Kanda Roso dengan maksud meyakinkan.
Ibu Suri tersenyum membenarkan.
Yah, dengan menganguk kepala ia menoleh
dan mengangkat tangannya. Dibantu oleh istrimya.
Panggil para dayang, dan bantu yang
mulia.! Memerintahkan kepala kasim.
Aku harap kau tidak tersinggung aku
seperti ini.?
Tidak Yang Mulia.! Aku senang Gusti mau
bertemu dengan Hamba.! Dengan suara lembut Ageng menjawabnya dengan wajah
menunduk.
Kemudian Gusti Agung, memandang Kang Mas
Roso.
Nggeh Gusti.! Kang Mas Roso menjawabnya
dengan singkat namun pasti.
Aku ingin berbicara denganmu berdua saja.!
Datanglah ke bilikku. Pengawal kerajaan akan menjemputmu besok.
Kang Mas hanya mengangukkan kepala..!
mengerti
Menambah pikiran kegelisahan hati Gusti
Putri.!
Cepat bawa Yang Mulia.! Mengambil alih tugasnya
sebagai pembicara.
Roso, kalian pulanglah dulu. Aku yakin
perjalananmu pasti sangat melelahkan dan aku rasa waktu sehari tidaklah cukup
memulihkan staminamu.. Istirihatlah..! kau boleh beristirahat sesukamu, aku
akan menyampaikan pada yang mulia jika kau memang masih membutuhkan waktu untuk
beristirahat. Aku yakin kanda juga pasti akan mengerti keadaanmu. Dengan senyum
Ibu Agung menjawabnya..
Tidak Ibu Suri, aku fikir bahwa ada
sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Gusti Agung pada hamba. Lagipula
Gusti Agung lebih penting daripada apapun yang saya lakukan. Tentu saja ini
tidak sebanding dengan lelah saya Ibu Suri..
Dengan rasa bangga sekaligus rasa masam
di senyum bibirnya, ia memandang wajah Ageng..! yang dipandang menundukkan
wajah, tak punya kuasa.
Aku bangga padamu Roso..! Palebahan
bangga memiliki Abdi Jumenegan sepertimu. Dan kau Ageng,, kau beruntung mendapatkan
suami seperti Roso.! Berbahagialah
Dan ingat pesanku Ageng..! berusahalah
Ageng untuk kebaikanmu sendiri serta kebaikan yang lainnya. Ibu Suri bermaksud
menyindir Ageng untuk bisa mengerti maksudnya, dan sangat berharap mengerti
maksud yang disampaikan. Melihat wajah Ageng, berubah berusaha mengerti makna
dan maksudnya. Dan membungkukkan badan berarti mengerti. Mencoba mengagalkan
keinginan kanda untuk datang dengan segera di kediaman Gusti Agung.
novel ini belum selesai,,, dan akan diposting kembali untuk kelengkapannya di lain waktu yang senggang..!!! stay n happy read at momentt......
BalasHapus