Jumat, 10 Januari 2014



 Life is single

Kedipan akan cerita hidup penuh dengan warna cinta yang tumbuh bersemi dalam keadaan apapun. Tak pandang akan sebuah kebaikan maupun kesalahan.. karna cinta tak akan meminta alasan akan semua yang tumbuh atas dasar nama cinta.
Nyatanya manusia memanglah sama,  mereka tumbuh bersama jiwa jiwa yang suci, dengan dunia berpuluh puluh rupa, beribu alasan, serta jutaan sebab yang tak pernah mengerti, KENAPA..?
Sebagian mereka mengatakan apa yang telah dikatakan, dan yang telah ditetapkan. Bagaimana bisa menjadikan ketetapan sebagai hukum tanpa penyelesaian. Bukankah itu sebuah hukuman bagi mereka yang mengalaminya.. Ya, tentu saja itu sebuah hukuman, atau mungkin lebih baik kita katakan sebagai cobaan atas Tuhan Yang Maha Esa. Setidaknya itulah yang mungkin akan terlihat.! Oleh mata mata perasaan, oleh hati – hati mereka yang sejuk.
Ketika waktu menuakan manusia, ketika takdir telah bersemi. Datang menyambut perubahan. Nyatanya itu adalah sebuah kejadian yang memang tak dapat dihindari, bukankah itu namanya takdir. Lalu mengapa mereka mengatakan itu bukanlah sebuah takdir yang tuhan berikan. Lalu apa yang terjadi pada jalan hidupku. Jika bukan dari tuhan, lalu siapa yang mengatur takdirku.?
Ketika  cinta tumbuh akan sendirinya, kepedulian hadir akan waktunya,, darah mengalir pada saatnya, jantung berdebar tanpa rekayasa.. disaat itulah kita mempertanyakan pada tuhan,, apakah ini yang dinamakan cinta..?
Tak ada yang peduli cerita ini terjadi atau sebuah khayalan, hanya saja ketika hati mulai menggambarkan kehidupannya, setidaknya inilah dalam kata kata..














BAB 1

Malam selalu sunyi, ketenangan yang mereka cari untuk bisa menemukan apa yang mereka cari. Mereka berfikir bagaimana bisa menjadikan keinginan menjadi sebuah pengharapan. Apa yang mereka inginkan.? Bukankah wanita baya itu telah memiliki 3 orang anak laki laki yang gagah perkasa..! masing masing dari 3 wanita baya yang telah memiliki anak dan keluarga tersebut terus saja termenung. Tak ingin ada memulai membuka kata kata, tak akan ada cerita diantara mereka. Melainkan suara hati mereka terus membaca suara hati satu sama lain. Mereka berbicara dengan hati.? Bisakah ?
Siapa mereka?
Sekumpulan ibu ibu yang berkumpul mengelilingi seorang ibu yang sedang hamil muda, tampak  mengembung kecil diperutnya.? Ageng, apakah kau siap.! Seru seorang wanita yang tampak lebih tua dari yang lainnya.
Sepertinya dia orang yang dituakan sekaligus orang yang dihormati daripada yang lainnya. Dari pakaian yang dikenakanya saja telah berbeda dari yang dipakai lainnya. Mahkota yang dipakainya sangat amat cantik, tampik bersama rumbaian yang mungil berkilapan terkena cahaya. Pakaian yang berkilau sutera hijau ke emasan tak menhapuskan wajah tua rentanya. Rambut yang menggelung menggores putih uban diatas kening hingga ketengah rambut, menantang kokohnya. Semua menambah rasa cantik mahkota hiasan perak berkilauan diwajah cantiknya wanita tua. Mungkin dia adalah ketuanya.? Dia adalah Nyi Ragem Mekar Sari alias ibu Suri. Dia adalah istri mantan dari kepala Cenayang golongan fraksi selatan dari laut selatan.
Sedang Nyi Ageng adalah sebutan gelar yang diberikan ketika menjadi golongan bangsawan priyai. Nama asli dari keluarganya adalah ibu Suyati yang lahir ditanah Swarna Dwipa. Wajahnya yang ayu, membuat ayah tiga anak ini menyukai watak dan tingkah lakunya seperti seorang keibuan. Tak perlu menambah hiasan karena tak berada, wajah ayunya tak perlu menambah riasan, sekuntum bunga kantil dan mawar merah muda yang ditusuk konde  asrahan, diatas gelungan rambut dikepalanya cukup sudah membuat ayu tampilannya. Dia adalah istri dari seorang ayah yang menjabat sebagai Kepala Cenayang Bagian Adat Budaya dari golongan Fraksi selatan.
Beberapa dari wanita tersebut telah bangun dari duduknya, “  ayo kita mulai.! “ seru seorang wanita yang paling muda, wajahnya yang ayu asri tersimpan kekuatan spiritul yang luar biasa dalam tubuh Ibu Ami.!
Ibu  suri mengangakat tubuhnya besar dan tua itu dengan dorongan  dan menahan nafas yang kuat. Serentak dengan ibu Ratih, seorang spiritual wanita yang tersohor akan kesaktiannya hingga keseluruh pelosok. Tubuhnya yang besar dan gemuk tidak menghilangkan pancaran aura asih wajah ayu-nya  dan terlihat masih muda dari usianya.
Mari kita lakukan.! Didahului ibu Suri yang agung berjalan kedepan di ikuti ibu ratih, Nyi Ageng dan dibelakang  ibu Ami. Berjalan beriringan menuju pasenggrahan, atau juga bisa disebut sebagai tempat pertemuan pada acara acara besar saja. Tentu saja tidak semua bisa masuk untuk melihat pasenggrahan ini, karena dianggap suci.
Keinginan hati ageng, untuk bisa mendapatkan anak harapannya terus bergejolak. Dalam hatinya yang dalam, ia menginginkan anak perempuan bangsawan sebagai anak bungsunya. Nayatanya justru 3 anak dilahirkan dengan kelamin laki laki semuanya.
Awalnya kekecewaan datang dan telah memutuskan untuk cukup 3 anak saja. Tapi apa mau dikata, tuhan masih berkehendak lain, tuhan memberikan kembali calon bayi pada Ageng berseling 9 bulan anak ketiga nya lahir. Hanya saja kekhawatirannya kembali muncul, bukan maksud tidak mensyukuri apa yang telah tuhan berikan, hanya saja ia menginginkan anak perempuan dalam salah satu anak anaknya untuk bisa menemani hidupnya. Anak yang akan menemani serta merawatnya saat tua nanti. Tak semua anak laki laki tinggal didalam pesanggrahan keraton ini. Hampir kesemuanya keluar mencari pendamping hidunya diluar istana keraton. Termasuk aku dan suamiku. Hanya saja aku beruntung masih bisa ditinggal didalam istana pesanggrahan ini, karena bantuan romo dalem. Dan tak jarang dari banyak lelaki memilih tinggal diluar pesanggrahan, dengan pasangannya. Bahkan diluar pengawasan dari istana keraton. Walaupun saat ini dunia telah memiliki pemerintahan sendiri, dan siapapun yang ikut didalamnya harus mengikuti aturan didalamanya. Tapi kami, jiwa kami, dan leluhur kami megajari kami untuk bisa menjadi pemimpin yang baik dan bijak bagi  kaumnya tanpa menhilangkan aturan-aturan budaya leluhur yang telah turun-temurun. Itulah sebabnya dizaman yang semegah ini, semodern ini kami masih tetap teguh, dan kami masih sama seperti yang dulu. Untunglah pemerintah tidak menghapuskan sistem kerajaan yang masih berlaku, karna pengabdian kami serta para Abdi Masyarakat yang mau mengabdi secara sukarela pada bangsawan seperti kami, yang masih berpegang teguh hatinya pada ajaran – ajaran leluhurnya. Tentu saja itu membuat kami bangga atas apa yang mereka lakukan. Terlebih lagi mereka masih memiliki jiwa melindungi adat tradisi yang telah lama dipegang teguh, baik itu didalam istana ataupun diluar istana. Tentu saja istana pesanggrahan keraton adalah tempat yang kental akan tradisi leluhur yang masih dijaga dan dikembangkan untuk generasi generasi yang akan datang. Dan yang satu ini, adalah sebuah tradisi yang dikeramatkan dan dianggap sakral yaitu acara pinanggihan. Pinanggihan berasal dari kata pinanggih yang artinnya pemanggilan. Biasanya tradisi ini digunakan oleh para raja raja terdahulu untuk memanggil para raja raja terdahulu, untuk dimintai pendapat ataupun kesepakatan dalam pengambilan keputusan. Acara ini hanya ada dan digunakan pada waktu yang genting atau disaat bumi pemerintahan sedang kacau. Dan tentunya proses acara ini wajib dikuti oleh seluruh kepala bagian cenayang dan ketua cenayang sendiri, beserta para Selir dan Ratu. Biasanya keuntungan dari acara ini, segala hajat dan keinginannya, walau setinggi gunung dan sedalam lautan samudera akan dibantu oleh para leluhur, agar tercapai segala keinginan dan harapannya. Dan sejak dahulu kala ritual ini dikeramatkan karena tuahnya yang nyata. Itulah ritual seperti ini tetap dikeramatkan dan dijaga baik dalam keraton.
Ketika bumi telah tenang dan merdeka, untuk apa mengadakan rapat kenegaraan, untuk apa mengadakan ritual pinaggihan, atau semacamnya. Nyatanya semua hanyalah cerita belaka, semua masih tersusun rapi, tanpa ada yang memakainya kembali. Dipelajari hanya para raja raja, dan pelatihan adat, dsb. Tak ada larangan untuk menggunakannya, dan tak ada aturan bahwa harus raja yang menggunakannya. Hanya saja banyak dari mereka terdahulu yang mencoba berhasil dengan kegagalan tanpa didampingi keinginan Raja. Sabdo Pandito Ratu, ya itu adalah sebuah ketetapan dan wewenang yang ada dan dimiliki pada diri raja. Apa yang menjadi sebuah perkataan raja adalah sebuah titah, sabdanya menjdi sumpah, keinginan dan harapannya menjadi sebuah aturan bagi kaumnya, baik dari golongan manusia atauapun dari golongan bangsa halus. Tapi, ada beberapa orang dan orang orang tertentu yang dapat menguasai ritul ini, tanpa didampingi Raja. Itu artinya tidak semuanya harus menggunakan kuasa raja. Hanya saja ini sangat jarang terjadi.! Begitu pula yang dilakukan oleh empat orang wanita di Palebahan ini. Bukan berarti mereka ingin mencobanya.!  Nyi Ratih, adalah salah seorang wanita sakti yang berasal dari kalangan bukan bangsawan. Ia mengabdikan dirinya menjadi sebuah Abdi dikerajaan karna bakatnya. Sejak kecil ia memiliki kemampuan luar biasa dalam diri spiritualnya. Konon ceritanya, disaat masih muda Nyi ratih pernah melakukan ritual pinanggihan ini dan berhasil. Ia meminta agar diberikan kelangengan apa yang dimilikinya serta disempurnakannya apa yang ia  miliki. Itulah sebabnya ia menjadi Spiritualis wanita yang terkenal diseluruh Pesanggrahan saat ini. Karena ketenarannya itu dia dipersunting sebagai Selir Rendahan Kepala Bagian.
Aku tak pernah tahu, apakah aku masih bisa melakukannya atau tidak.! Ini sudah lama Nyi.? Matanya yang menatap Ibu Suri dengan penuh keraguan.! Lain lagi hatinya yang tidak bisa tenang, mata fikiranya tak bisa melihat apa yang akan terjadi. Itu artinya sesuatu yang besar akan kita alami.! Aku takut ini diluar kendali kita. Ditundukkan wajah bulatnya hingga menekuk lekik gulungan lingkar di lehernya, tak lagi terlihat gulungan emas mengikat dilehernya. Apa sebelumnya ada yang mati setelah melakukan ritual ini,? Sejarahku mengatkan tidak Ratih.! Kau terlalu berlebihan ratih, jika kekuatanmu tidak bisa melihat kedepan, itu wajar.! Tidak harus semuanya kamu bisa mengerti. Jangan jumawang.! Setinggi- tingginya gunung, masih ada yang melebihinya Ratih.! Aku hanya berharap sesuatu kekuatan besar yang tak bisa kau lihat adalah sesuatu yang membawa keberuntungan bagi Ageng.! Tegas Nyi Ragem menguasai.! Pengalamnya sebagai Ibu Suri bukanlah hiasan belaka. Bahkan Raja – Raja terdahulu pun menghormati keberadaan Gelar sebagai Ibu Suri.
Sedang Nyi Ragem adalah Ibu Suri yang tertua dari Ibu Suri yang lainnya. Itulah sebabnya ia dikatakan Ibu Suri yang Agung, karena memang yang paling dituakan diantara lainnya.
Aku kira kali ini, kau benar Nyi.! Kata Nyi Ratih mulai memantabkan hatinya.! Aku mulai menemukan celahnya sekarang.! Lalu Bagaimana denganmu Ageng.! Apa kau yakin.? Aku ingin kau memantabkan hatimu dulu, karena kaulah yang akan menghadapinya sendirian.
Hati ageng yang selalu berkecamuk, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin membatalkannya, hanya saja dia telah terlanjur mengundang rekan rekannya dan telah terlalu jauh melangkah untuk  bisa kembali lagi. Ia takut dianggap mempermainkan yang lainnya. Di lain sisi pula ia takut anak yang masih dikandungan muda itu terlahir sebagai laki laki kembali, dan keinginan untuk bisa mendapatkan apa yang diharapkannya. Kekuasan yang dimiliki ageng sebagai seorang istri dari kepala Cenayang Bagian, tak bisa menuntut terlalu keinginan, dihadapan Ibu Suri yang Agung. Tak pernah terfikir untuk melangkah sejauh ini.
Selain itu ia juga takut melawan takdir dari tuhan apa yang telah seharusnya ia dapatkan, selain itu pula Ageng tidak memberi tahu apa yang dilakukannya sekarang kepada suaminya. Suami dari Nyi Ageng memang jarang dirumah, terkadang 1 bulan sekali baru pulang, dan bahkan berbulan bulan tak ada kabar dan kepastian.
Keinginanku semakin mantab, tak ada pilihan lain ketika Ibu Suri yang Agung berjalan ke tengah lingkaran dan mengucapkan kata kata penanggalung. Kata kata yang hanya digunakan sebagai pemula untuk memanggil roh roh suci dan leluhur leluhur dahulu, akubhanya bisa menguatkan hati, semoga apa yang menjadi keinginanku adlah keinginan yang lain juga termasuk suaminya. Upacara terus berlanjut, suasana tenang dengan angin yang berhembus dari laut selatan, mengoyahkan darah terus bergejolak dari atas hingga sekujur badan. Sesekali tercium wewangian kembang setaman, serta suasana suhu yang bergejolak panas, yang tersiram oleh angin laut yang dingin. Kini harapanku telah datang, takkan terubah lagi sekarang. Harapanku kini telah didepan mata. Tak peduli apa yang terjadi nantinya, aku hanya berharap sesuatu yang bahagia akan membuat kami senang nantinya. Kuyakinkan hatiku untuk tetap berdiri ditengah tengah lingkaran para wanita yang sedang duduk bermeditasi.
Suara gemerincing datang mengalun, perlahan lahan terasa begitu dekat. Kini kulihat samar samar dari kejauhan seorang wanita cantik dengan gaun yang indah, berjalan dengan anggun nya, dan kini terlihat begitu jelas keindahannya. Ku tundukkan wajahku dengan badanku yang bersimpuh. Kuangkat kedua tanganku diatas kening, sebagai salam penghormatan. “ sembah sujud sungkem,  kulo aturaken.. Kanjeng Ratu”  ku ucapakan dengan nada nada yang lembut. Tatapan mata yang meruntuhkan setiap hati.
Hati kami saling bertanya antara sebab dan musababnya. Ketika renyuhan suara rening yang bersembunyi dibalik papan, mulai kembali berani berbunyi. Memecahkan suara keheningan yang menutup seakan akan kedua telinga. Ketika itulah pertemuan kami dengan Kanjeng Ibunda Ratu berakhir pula.
“ Selama daun masih mau menguning, selama itu pula ia mengharapkan tunas hijau kembali. Tak akan peduli dirinya walau daun terus runtuh menyiksnya tubuhnya. Membiarkannya basah kuyup, ataupun kering terbakar oleh terik matahari. Nyatanya itulah yang terbaik baginya yang diberikan Tuhan kepadanya, walau sebenarya ia tersiksa karnanya”
Anakku, “urip ingkang dunyo werno rupo, wetoro doro. Sak westine ingkang manungso iso ngelakoni mati nepsu, yo iku ono manungso seng roso bathine” ( hidup didunia ini banyak rupa, dan selalu kelihatan yang indah- indah dan bagusnya saja. Sebenarnya,. manusia yang bisa menahan hawa nafsunya dalam segala keinginan duniawi,  dialah manusia yang kuat iman kepada tuhannya”
Tanda tanda terus terjadi, namun kujadikan sebagai motivsi dan keyakinan. Malam demi malam bertambah kelam, ditambah kegundahan hati yang ,mengelabu biru. Hanya menambah penyesalan sisa dihati ini. Berharap semua kan baik baik saja, itu yang kuharapkan saat ini, tak peduli kemiskinan yang seperti apa mendera, hanya saja jika sesuatu terjadi pada janin bayinya, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar baginya dan tentu saja semua keluarganya.
Kandungan yang membesar telah menggelantung menjadi sebuah beban bagi tubuhnya yang kurus dan layu. Harapan yang dinantikannya selalu ditunggu akan datangnya.
Aku tak akan pernah bisa bersabar akan kedatanganmu, dalam hatinya berkata dengan lembut , seolah anak yang dikandungnya dapat didengar ucapan kasih sayangnya. Tangan halusnya menenangkan bayi dalam kandungannya. Hari demi waktu terus berjalan seiring senandung hati menunggu saatnya tiba. Sentuhan kaki kecil dalam perut mulai menambah kebahagian hati seorang ibu. Hingga pada saatnya hari itu telah tiba, Hari 9, Bulan 9 dan Tahun 1992. Hari yang selalu dinantikan telah tiba, tida ada keraguan dalam hatinya untuk berjuang melawan rasa sakitnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari yang pernah dialaminya dengan tiga anak yang telah dilahirkannya. Sentuhan dalam keghaiban menguatkan pikirannya atas pertanyaan dalam hati. Bayi begitu dengan mudah dan sangat cepat. Berjuang sendiri tanpa ada Nyi suci, seorang dukun beranak yang dipercaya di Palebahan Keraton. Seluruh tali placenta membelit seluruh bagian tubuh dari leher hingga kelutut kaki. Beranggapan tetap menjaga kehangatan akan dinginya malam yang datang dengan hembusan angin laut.

Tak ada rasa lelah dalam dirinya melahirkan anak yang satu ini. Ia bangun dari tidurnya dan segera melihat anak yang telah dilahirkannya. Dengan rasa terkejut dan segera ia melepaskan balutan usus yang menjerat lehernya dulu. Ketakutan akan tidak dapat bernafas, detak jantung mulai melepskan ketegangan dan mehela nafas pelan, seketika kekhawatitran mulai mereda di iringi dengan tangisan bayi.
Alhamdulillah, anakku masih hidup. Dengan segera ia tersadar, dan menghirup cairan dari lubang hidung dan mulut anaknya. Perlahan tangan pucat mengambil usus yang membelit dalam tubuhnya, hingga masih tersembunyi alat kelaminnya.
Kuangkat bayiku dengan kedua tangan dan mulai melepaskan belitan placenta papa tubuh mungil merah ini. Baru satu putaran, terhenti oleh kedatangan Nyai Suci dan anak sulungku. Segaja aku menyuruhnya untuk memanggil dukun beranak itu. Tak lama disusul kedatangan oleh Ibu Suri yang Agung, yang juga bergembira menanti akan hadirnya anakku. Ibu Suri,, aku memanggilya namanya dengan rasa bahagia, melihat bayiku yang berlumuran darah terlihat amat cantik berkilauan diterpa oleh Dian ( lampu semprong). Dengan harapan Nyi suci melepaskan seluruh belitan ditubuh bayiku, dan memotong ari arinya dengan sebilah irisan bambu yang telah dilumuri oleh kunyit. Dengan segera Nyi Suci membawanya dan memandikannya ditengah kegelapan. Hanya pancaran remang - remang dari lampu teplok yang menempel pada sebuah tiang penyangga utama. Model rumah Joglo untuk rumah adat jawa pada saat itu.


Dengan senyum bibir tua yang telah keriput, Nyi Suci memberikan bayiku seraya  berkata: Wajahnya cantik yo Nduk. Dengan senyum kekehnya.  Aku melihat ibu Suri yang Agung, tatapanku ini Menginginkan sebuah makna darinya. Kesepuhannya kuharapkan dapat mengantikan posisi suamiku untuk menamai nama yang bagus untuk anakku.
Ibu Suri,, Aku senang anakku lahir dengan selamat, aku ingin ibu Suri yang agung,  mau memberikan nama indah untuk anakku. Kira kira nama apa yang cocok dengan nama anakku yang cantik ini. Nyi Suci tersenyum melihat kebahagian yang terpancar dari bibir Ageng, tanpa raut wajah lelah. Jika dulu aku diberikan anak, aku ingin sekali menamakannya dengan nama yang telah kusiapkan. Hanya saja tuhan belum memberkatiku untuk punya anak, hingga usiaku yang serenta ini, aku masih merindukan punya anak sendiri. Wajah tuanya dengan raut sedih, meneteskan air mata yang mengalir dari sudut mata, mengalir tertampung oleh kantung  mata yang kian menggurat jelas diwajahnya.
Ibu Suri, maafkan aku telah membuatmu bersedih.! Ibu Suri yang agung, silahkan beri nama pada jabang bayi ini, jelas oleh Nyi Suci.
Jika kau setuju, aku ingin memberinya nama sesuai harapanku,“ Tribhuana Tungga Dewi” bukankah itu nama yang indah untuk anak perempuan secantik anak mu Ageng.! Maaf Ibu Suri yang Agung, anak dari Gusti Nyi Ageng itu adalah laki laki bukan perempuan, Ibu Suri salah.!
Apa Maksud Nyai.? Dengan wajah bingung, jantung ageng mulai berdebar.! Badanya mulai memanas, sedikit kekecewaan mulai menyelimuti hatinya.
Nyai Suci..! apa yang terjadi sebenarnya.!! dengan nada tegasnya, mengancam Nyai Suci. Nyai suci tak mampu lagi memandangi wajah Ibu Suri yang kesal padanya,!
Iya Ibu Suri, anak dari Nyi Ageng itu adalah laki laki, akan tetapi ia memiliki aura dan pesona wajah sepeti anak perempuan. Hamba fikir Gusti sudah mengetahuinya jenis kelamin anak Gusti, Nyai Suci menjawab dengan wajah menunduk hormat.! Dengan sigat tangan Ageng mengambil bayinya, yang lelap tertidur dalam balutan kain batik sutera. Dibukaknya bedong balutan kain tersebut dengan hati hati, karna luka tali pusarnya yang masih basah. Dengan pandangan redup, ia mulai meyakinkan jenis kelamin anaknya. Begitu tidak yakin, ia menyentuh dengan jemarinya. Begitu yakin dia menangis memeluk anaknya. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya. Baginya sekarang apapun jenis kelamin anaknya, tidak peduli baginya. Terserah, apa laki laki ataupun perempuan, bagiku kau adalah pusaka hati ibu nak. Dalam hatinya ia menghilagkan rasa kecewanya, selain itu aku tidak mau mengangap anakku sebagai kekecewaanku, bagiku kau tetaplah anugerah bagi hidupku. Kau akan menjadi seperti ayahmu. Dia terus menyanjungkan anaknya seraya menangis. Hentakan hentakan tanganya yang tak sadar, membangunkan tangisan memecah kesunyian malam. Dalam hati, Ibu Suri tau apa yang dirasa oleh hati Ageng. Akupun juga merasakan hal yang sama dalam hatinya. “ Ageng,! Bersabarlah.! Tenangkan dirimu. Mungkin tuhan belum memberikan izinnya kepadamu untuk mendapatkan anak perempuan. Akupun juga heran kenapa bisa terjadi. Lagi lagi tuhanlah yang maha agung, yang menetukan segala takdir. Mungkin ini adalah yang terbaik bagi anakmu kelak. Yang perlu kita sadari adalah bahwa kanjeng ratu bukanlah tuhan, beliau juga hanyalah seorang Utusan Tuhan juga. Kalaupun apa yang dilakukan dan dinginkannya terjadi, itu karena restu tuhan. Kalaupun tidak, itu artinya tuhan telah memilih dan menentukan jalur takdir anakmu tanpa perantaranya. Percayalah ageng, bukan berarti kanjeng ratu tidak menyukaimu, hanya saja mungkin ini sudah takdir yang terbaik bagi anakmu.
Aku akan tetap menyukainnya, Ibu Suri.! Dia adalah anakku. Apapun yang terjadi padanya, ia adalah tetap  anakku. Aku tidak menyalahkan siapapun untuk hal ini, kalaupun aku tidak mendapatkan yang ku inginkan, itu sudah tidak menjadi masalah bagiku. Karna inilah anak anakku.! Anak anakku yang sekarang, nanti dan kelak. Karna aku tidak akan mempunyai anak lagi, sudah cukup bagiku Empat anak lelaki yang gagah dan tampan. Sudah  cukup untuk menemaniku hidup dihari tua.! Aku akan menjadikan ini sebagai anak bungsuku, anak sebagai laki lakiku dan sebagai perempuanku.
“ kecantikan dalam dirinya, walau dia seorang laki laki sekalipun masih tidak bisa ditutupi.!” Kataku berkata kepada Ibu Suri dan Nyi Suci dengan senyumku menghilangkan sedih dihati dengan belaian tanganku pada wajah halus bayiku. Aku yakin kaulah yang akan mewarisi sifat dari ayahmu, kau lah yang akan mengantikan posisi jabatan ayahmu sebagai Kepala Cenayang,!!
  Mungkin lebih dari itu Ageng.!! Ujar wanita tua itu dengan yakin.. Apa yang Ibu Suri maksudkan.? Anakmu bukanlah anak biasa, Ageng.! Walau kanjeng ratu tidak bisa mengubah sesuai dengan keinginannya, tapi perlu kita ketahui bahwa anakmu ini telah tersentuh sebagian dari diri beliau. Anakmu bisa dikatakan sebagai titisannya.  Aura yang memancar dalam dirinya, aku yakin itu bukanlah hal yang sepele. Aku yakin itu adalah kekuatan yang sangat besar, sangatlah besar ageng.! Anakmu akan menjadi panutan dn akan dihormati diseluruh palebahan keraton ini. Mungkin akan sampai negeri dwipa seberang.! Dengan muka yang serius Ibu Suri mengatakan kepada Nyi Ageng.

Benarkah yang Ibu Suri katakan.? Lalu apa yang harus saya lakukan Ibu.? Aku takut jika seperti, cepat atau lambat Kanda Mas Roso ( suami) akan mengetahuinya. Apa yang harus saya lakukan dengan Kanda. Aku takut dia kecewa dengan apa yang telah kuperbuat pad anakku. Dengan energi qi nya yang begitu kuat terpancar, akan mudah untuk bisa dilihat dan diketahui dari mana asal usulnya. Itu adalah tanggung jawabmu Ageng.! Kau sebagai ibu baginya harus bisa menerima kenyataan telah kau lakukan atas kesadaranmu. Aku yakin suamimu akan memahami maksud keinginanmu. Percayalah.!
Yang aku takutkan, aku sudah terlalu jauh melangkah untuk seperti ini. Kanda pasti tidak akan percaya apa yang telah aku perbuat, selama dia pergi. Aku sudah terlalu dalam berurusan dengan Ghaib, terlalu membahayakan diriku dan anak anakku.
Ibu Suri, menundukkan kepalanya. Dengan wajah yang tidak begitu baik. Ia tidak dapat memungkiri apa yang akan terjadi jika seseorang bermain terlalu dalam dengan keghaiban. Itu memang kenyataan, dalam hatinya. Dilain sisi ia juga menyesal membantu Ageng, karena hatinya yang tidk konsisten membuatnya merasa bersalah selaku pemimpin yang bertanggung jawab atas semua yang dilakukan. Ia juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Mungkin aku terlalu memuji dan menjunjungnya terlalu tinggi dari segalanya. Ia merasakan apa yang menimpa ageng sebagian besar adalah kesalahannya. Kalaupun ia mengalami atau berada dipihak Nyi Ageng saat ini, mungkin juga aku akan merasakan hal yang sama. Kepedihan hatinya bertambah terluka seolah olah menambah beban derita hidup Ageng. Hidupnya yang serba pas pasan bahkan bisa dikatakan kekurangan bertambah pula dengan beban saat ini. Dalam hati wanita tua ini selalu berkecamuk, air matanya mengalir lagi.
Ia menoleh ke kanan membelakangi wajah sang bayi yang digendong dlam pelukan Ageng. Dengan badan tua yng agak membungkuk ia menatap Dian yang tertempel di tiang penyangga tengah.

Penerangan yang ala kadarnya dengan cahaya remang yang berusaha memancarkan cahayanya seolah olah mengerti keadaan tuannya, dan tak ingin menambah penderitaanya dalam kegelapan malam. Mata tua dengan lirih yang terus memandang cahaya merah memantulkan kekentalan warna, menyuramkan penglihatan membaur tengah malam dalam dinginya waktu yang gelap. Dian telah mati tak mampu lagi menerangi sampai tujuan, membuat kami lelap dengan mata terpejam gelap. Nyi Suci membakar Bahar untuk wawangian didepan teras depan, entah apa gunanya. Tapi paling tidak tak akan ada nyamuk malam ini untuk tubuhku yang lelah tak terasa dan anakku yang cantik akan tertidur dengan pulas. Bersama pagi kami menyambut dinginnya kabut yang terusir dengan hangatnya mentari. Kulihat Nyi Suci sedang berbenah kamar, anakku dimana.! Dalam   hatinya terkejut mencari anaknya dimana.? Ibu Suri masuk membawa momongan Ageng.! Anakmu terbangun Ageng, aku membawanya..! kau terlihat masih lelah jadi aku enggan membangunkanmu.!
Aku telah memanaskan air untuk mandimu Gusti, silahkan bersihkan diri Gusti Ageng.! Dengan posisi setengah sujud Nyi Suci menyambut tangan Gustinya. Dengan gerakan yang sedikit paksa, dilangkahkan kakinya dalam papahan. Tangan menekan kain yang membalut tubuhnya dengan bau amis semerbak. Gusti, mandilah air setaman ini, air ini untuk membersihkan diri gusti dari segala kekotoran hidup. Semoga gusti diberikan wawasan sinambungan kaleh Gusti Kuasa. Tangan tua itu mulai mengambil gayung dari tempurung kelapa, terlihat begitu sakral memang.!
Air hangat mulai membuat seluruh lelah bersama aliran darah yang telah mengering. Dalam hatinya “Duh Gusti seng Agung, bersihkanlah, sucikanlah diri hambamu ini, dari segala kekotoran hati, raga, dan bathin ini. Kuatkan hati ini dalam berjalan digaris hidup yang kau berikan. Aku serahkan segala kebodohanku dan kekotoranku padamu ya Gusti. Kuatkan hatiku yang lemah ini.!”
Bau amis yang mulai menyebar, bersama bau wangi yang semerbak. Membuat segalaya menjadi imbang. Wanginya bunga, serta buihnya sabun masih masih terus mencoba mengalahkan merahnya darah yang mengental disela sela batu. Mari Gusti,! Kain putih diletakkan dipundak dengan papahan.
Seketika ia terkejut melihat kamarnya telah penuh dengan orang orang datang.! Ada Nyi Ratih, beserta abdinya Mbok Parni, Nyi Ami dengan abdinya Mbak Rega, serta  ketiga anakku yang mendekati nyi Ragem alias Ibu suri yang membawa bayiku dalam tubuhnya yang gemuk.
Kenapa kau tidak mengabariku Ageng, kau bisa menyuruh Abdimu memberitahuku bukan.? Sejak kapan Ageng punya Abdi.! Sergah Nyi Ragem sari. Anaknya  adalah abdinya,! Dengan wajah bermain pada bayinya. Ageng mendekati ketiga anaknya, denga bayinya. Wajah senyumnya membuat yang lain terheran. Dalam pikiran mungkin Ageng akan kecewa terhadap kelahiran bayi laki lakinya, dan telah dipersiapkan untuk memberinya support. Tapi nyatanya salah, melihat wajah ageng yang menyambut anak laki lakinya dengan sukacita, membuat para Ibu Daleman Agung sedikit heran, apakah Ageng telah melupakan ritual kemarin. Dalam hati para ibu juga memberikan senyum bahagia pada Ageng.
Nyi Ageng, awalnya aku kecewa terhadap apa yang terjadi padamu. Tapi, sekarang aku mengerti dirimu. Aku harap kita lupakan saja apa yang telah terjadi dan lupakanlah dan buanglah jauh jauh apa yang kau harapkan.  Ageng terlihat begitu tenang. Entahlah Nyai, begitu anak ini lahir, aku merasakan hatiku sangat tenang. Tidak ada rasa apapun yang aku rasakan. Melihat wajahnya yang berkilau cantik membuatku cukup memiliki seorang Setri     ( anak Perempuan). Ia mengambil anaknya dan mengecup keningnya dengan senyum bahagia. Ia ingin menyusui anaknya pertama kali.!
Nyi suci memangil tiga anak yang mengelilingi ageng, tanda bahagia memiliki adik baru yang menggemaskan. Raden..! sebaiknya raden bertiga sarapan dulu, Nyai telah siapkan makanannya untuk raden. Karyo.! Bawa adik adikmu makan di dapur.!
Wajahnya yang enggan meninggalkan adik barunya, dengan suara yang lirih anak sulungnya menjawab: “Baik Nyi Ageng.!” Ayo dik, mulai mengajak adiknya dan menarik tangan Silo, adik terkecilnya.
Ageng, apa kau sudah memberinya nama.? Ya, Ibu Suri yang Agung memberikan nama yang indah untuk anak tampanku.! Ketiga istri kepala Fraksi memandang ke wajah Nyi ragem,. Aku memberikannya nama Tribhuana Tungga Dewa Jayawisnu Wardhana Pakuwon Hadiningrat
Sungguh nama yang indah,! Tapi Nyi ragem, Bukankah itu nama terlalu berat bagi gelar keluarga Kanda Roso.? Aku rasa tidak.!  3 abad yang lalu, kelaurga dari gelar Pakuwon lah yang memimpin Istana Palebahan Keraton ini.
Itu artinya, paling tidak ia memiliki darah bangsawan Asli Yang Mulia Gusti Prabu Agung Sukmo Ningrat. Aku hanya bisa mengharapkan semuanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan  pengharapan kita. Setidaknya itulah yang bisa kita ambil dari kegagalan yang kita lakukan.
Nyai Suci kembali dengan badan membungkuk, ketika hendak kekamar Nyi Ageng.! Bukan tak bermaksud mengangu saja, lagipula siapalah Nyai Suci. Seorang wanita tua kurus tinggi dengan baju kemben usang didadanya. Dan bukan dari darah bangsawan. Nyai suci adalah seorang warga yang telah dianggap menjadi seorang abdi tabib dalam pesanggrahan keraton. Karena pengalamannya sebagai dukun beranak. Nyai Suci kerap dipaggil jika seseorang ingin melahirkaan. Selain itu, rumah Nyai Suci yang tinggal di bale keraton, luar pagar membuat tidak begitu jauh memanggilnya datang,
Ada apa Nyai,? Dengan nada ramah Ageng memanggil Nyai Suci,! Yang lain memandang mata dengan sinis.!
Ndak gusti, dengan senyum kecut dibirnya, dibaliknya hatinya Nyai Suci ingin sekali mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa hubungannya dengan apa yang dibicarakan oleh para ibu ibu keraton ini. Nyatanya Nyi Ami mengetahui gelagat isi hati Nyai Suci, sedikitnya ialah orang kedua wanita yang memiliki kebathinan yang tinggi setelah Nyai Ratih. Nyi Ratih hanya menanggapinya dengan senyuman, apa yang dilakukan oleh Nyi Ami.
Nyai, cepat atau lambat kau akan mengetahui tentang apa yang telah kami lakukan, tak perlu Risau. Hanya saja kami ingin meminta tolong padamu, untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang anak ini atau tentang apa yang kami bicarakan saat ini. Akan sangat berbahaya bagi hidup ageng, terlebih bagi Kanda Roso selaku suami Ageng. Apa kau bisa dipercaya Nyai.?
Apa yang bisa dilakukan oleh wanita setua dan  serendah saya ini Gusti.? Dengan wajah dan senyum Nyai ratih kembali menanggapiya.! Aku sangat percaya denganmu Nyai, aku tahu kau juga memiliki hati yang lemah seperti kami, aku harap kau mau mengerti dan menolong kami.
Bicaramu terlalu ngawur Ratih.! Nyai..!! sela Nyi ratih..! apa yang penting dari kita saat ini Nyai.? Aku tidak mempersalahkan omonganmu Ratih. Hanya saja cara nada bicaramu menurunkan kebangsawanan kita. Nyai Suci bukan dri bangsawan.! Memohon kepada para kasta, itu larangan. Bagaimanapun juga kita harus menjaga martabat keluarga dan leluhur.! Kau harus tahu tentang itu..!!
Nyai Ratih menganguk mengerti, dengan wajah menyadari akan kesalahannya.! Kehalusan hatinya membuatnya lupa akan dirinya. Sifatnya dari kasta bawah belum terhilang sepenuhnya, karna baginya hidup dengan perbedaan kasta seperti itu membuat dirinya hidup seperti negara Komunis.
Suci, aku percaya denganmu.! Jaga mulutmu agar masalah ini tidak menyebar keseluruh pesanggrahan keraton. Terlebih lagi dari orang orng diluar fraksi kita. Kita tak pernah tahu kelicikan macam apa yang disiapkan untuk fraksi kita. Diluar mereka selalu menjunjung tinggi fraksi kita, tapi didalamnya kit tk pernah tahu, hal ap yang telah disiapkan untuk menjatuhkan kita. Selama berpuluh puluh dan hampir se abad lamanya, fraksi selatan tetap kukuh pada kuasanya. Itu karena Ibunda ratu ada pada pihak kita. Aku selalu berharap tidak ada apa apa.


Hari ke 2
Hari semakin hari membuat keadaan rumah Ageng dipenuhi dari Para Abdi Sentanu hingga Para Abdi dalem kerajaan, bahkan dari kalangan masyarakat luar kerajaan yang hanya ingin mengucapkan selamat. Hampir keseluruhan pengunjung dibuatnya takjub akan bayi Nyi Ageng. Keanehan demi keanehan terjadi pada setiap pengunjung, beberpa dari mereka mengatakan bahwa anakmu memiliki kekuatan besar dalam hidupnya, anakmu akan memimpin kedaton pesanggrahan ini. Tapi bagaimana mungkin, sedangkan anakku bukanlah keturunan raja pakuan secara langsung, lagipula dia juga anak bungsu. Bagaimana bisa dia menjadi seorang Raja kedhaton ini, sedang anakku ini adalah anak bungsu dan dari kalangan golongan bangsawan lemah seperti keluargaku. Tentu saja, mereka berlebihan.! Berbagai macam komentar dengan nada baik diucapkan pada anakku, terutama Para Abdi Dalem yang belum memiliki Kekuatan bathin secara mumpuni. Mereka mengangap pancaran sinar aura yang berbeda pada anakku, adalah sesuatu yang aneh dan jarang terjadi. Aku beruntung karena telah memilikinya.!
Andai mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, apakah mereka akan mengatakan hal yang tetap sama.? Beberapa dari Abdi sentanu Kerajaan yang telah Sepuh, memilih diam menghadapi fenomena ini. Mereka sendiri belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Satu dari ketakutanku adalah bagaimana jika seseorang mengetahui fenomena ini, dan mengatakan hal ini pada suamiku.! Setiap para daleman agung yang tinggal di istana dalam berkunjung selalu membuatku waspada dan khawatir. Terlebih lagi mereka selalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.? Aku hanya bisa menjawab, apa yang terjadi denga anakku.? Dengan bertanya kembali seperti itu akan membuat diriku dalam posisi aman.
Entahlah Ageng, aku merasa ada yang berbeda dengan anakmu.! Aku bisa merasakannya dengan pasti, bahwa Anakmu memiliki sukma Wanita bukan Pria. Hanya saja kenapa dia memiliki jasad sebagai anak laki laki. Dan yang aku rasakan, sukma bayimu bukanlah sukma bayi pada umumnya. Aku bisa membedakan getaran energi lembut yang dipancarkan dalam aura sucinya bayi. Tapi anakmu berbeda Ageng. Anakmu sudah mampu memancarkan energi Qi nya sendiri. Untuk seukuran bayi seharusnya belum bisa memancarkanya sendiri tanpa ada perlakuan apapun. Energi yang dipancarkannya juga sangat kuat. Bagaimana ini bisa terjadi.! Ungkap kakang Dorot.
Kakang Dorot adalah sebenarnya msih memiliki hubungan kekerabatan dengan kanda Roso, karena berasal dari satu Eyang. Kakang dorot juga berasal dari Fraksi Selatan. Tubuhnya yang tua masih terlihat energik. Wajah bersihnya dengan kumis dan janggut putih yang telah memanjang tertata rapi, masih tampak bersinar menandakan kesehatan selalu bersamanya. Bagaimana tidak, dia diperintahkan dan dipercaya untuk bisa mengabdikan dirinya Di Istana Keraton sebagai Kepala cenayang Bagian pengobatan dan kesehatan Istana.
Semua yang berkumpul yaitu para Abdi sentanu melihat keheranan. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa hal seperti ini bukanlah hal pertama kalinya terjadi.! Biasanya ini terjadi pada anak anak raja terdahulu, yang dipercaya membawa perubahan besar pada masanya. Biasanya hal seperti ini terjadi telah direncanakan sebelumnya.!
Semua menoleh pada Kakang pati, termasuk mata ageng yang mulai was was.! Apa maksudmu kakang.? Tanya Kakang Dorot. Walaupun Kakang pati masih muda, tapi kakang pati adalah kakak seorang selir raja, yang memimpin bagian bagian di istana dalam.
Ya, kang.!
Tidak semua anak raja mengalami hal yang seperti ini,! Contohnya Putra mahkota serta pangeran lainnya, tak ada satupun yang seperti anak ageng.! Anak seperti ageng ini adalah anak Pinanggihan. Hanya anak seperti itulah yang bisa terjadi hal hal seperti ini. Begitupun anak raja sekalipun.!
Tapi, tak mungkin Ageng melaukan hal seperti itu.? Aku yakin Ageng tak akan mampu,? Tak ada yang tak mungkin paman.? Sergah keponakannya.!
Kakang dorot menyinari tatapan mata Agemg,. Ageng apa kau melakukan ritual pinaggihan.? Apa kau mampu melakukannya.?
Jika kakang saja tidak bisa, sedang kanda roso pun tidak mampu, bagaimana bisa seorang anak rakyat jelata seperti aku bisa menguasainya.! Aku hanyalah bangsawan priyai, jadi mana mungkin aku bisa melakukannya.!
Semua menunduk, mereka berfikir apa yang dikatakan Ageng adalah masuk akal.!
Aku hanya berharap hal baik akan menimpa anakku, yang kuinginkn hanyalah hidup tentram dan nyaman dengan keluarga serta anak anakku. Tak masalah bagiku dia laki laki atau perempuan atau yang kakang katakan sekalipun. Karena yang kami cari hanyalah ketenangan serupa. Aku tak akan memepermasalahkan hal ini.!
Semua kembali tersadar dari apa yang mereka lakukan. Sudah terlalu jauh mereka berfikir. Baiklah ageng, aku mengerti.! Seharusnya kita berbahagia disaat saat seperti ini.! Andai suamimu ada disini, mungkin kebahagian yang kau rasakan kan berbeda, Nyi  ageng.! Suasana yang mencoba dipecahkan.!
Hari ke 3
Hari hari setelah hari ketiga, ageng sendiri merawat seorang bayinya dan ketiga anaknya. Rumah yang kemarin ramai, tampak sepi sepi saja. Terkadang seseorang datang seorang Nyai dalem, memberikan makanan untuk anak anak ageng, dan sesekali ingin menggendong anak ageng yang manis. Semua dilakukan atas keprihatinan seorang wanita yang hidup seperti tanpa suami, dengan mengurusi ke 4 anaknya. Tubuh ageng yang terlihat ramping menunjukkan tulang atas dadanya. Badan yang belum pulih tak mungkin ia paksakan ke sawah untuk bekerja. Kulit merah merona anaknya tak sanggup ia tinggalkan, baginya melihat keindahan anaknya, sudah kenyanglah itu. Hanya saja ia tidak tega dengan ke tiga anaknya yang lain. Dia butuh makan, anak sulungnyaa selaku yang tertualah yang sekarang menggantikan ayahnya.
Apa dayaku selaku orang tua, tubuh keringku ini harus berbuat apa.! Aku hanya berarap kanda roso bisa pulang secepatnya. Dalam benakku, sebentar lagi kanda akan pulang. Tak akan lama lagi. Aku yakin kanda juga ingat kandunganku, aku juga yakin kanda juga bisa memprediksi kapan kandunganku akan lahir.
Tuhanku yo Gusti. Mugi diberikan Rezeki untuk suamiku, kesehatan baginya.!

Panas yang terik hari ini membuat kami sekeluarga kepanasan, beberapa kelapa muda ku pecahkan untuk mengambilnya airnya yang segar. Sesekali anakku kuberi lapisan lembut daging buah kelapa muda (dogan), dan sesekali ia tersenyum seperti ia menyukai. Kenakalan kakaknya mengangu adik kecilya membuat kami tertawa riuh. Tidak seperti biasanya, hari begitu panas hingga air kelapa muda yang dituang wadah kendi habis tak tersisa.
Kakak belum pulang Di,! Kamu jemput kesawah ya.! Ini sudah terlalu siang, mungkin kakakmu sudah terlalu lapar. Kau bawakan saja dia makanan, nanti kau ajak pulang ya,! Ambillah didapur Di, sudah ibu siapkan.
Adek mau ikut,.! Menggelengkan kepala beberapa kali, dan asyik menyantab kelapa muda.
Sendiri saja ya.!
Ya, mak.! Dengan sekantong plastik hitam yang ditali pada lengan tangan kanannya, siap berangkat dengan memakai topi. Ia keluar dengn menyalami tangan Ageng, dan mendorong kening adiknya sebagai salam untuk kakak tertua, kejahilan kakaknya itu, membuat tangan yang habis disalaminya memukul bokong kakandanya karna kesal. kadang membuat ibunya merasa miris, terhadap kejahilan yang terlalu berlebihan. Apalagi baru berumur 4 hari.
Mak, berangkat mak. Assalamualaikum.!
Wa’alaikum salam.!
Berapa selang waktu berlalu, aku mengangkat kakiku untuk pergi ke kamar.! Dari kejauhan aku mendengar suara adi. Teriakan semakin jelas mendekat, menderu meneriakkan suaranya. “ Mak, Bapak Pulang dengan kakak,.!” Ber ulang ulang kali.
Dengan bangga hatiku, aku keluar menyeret tangan anakku yang tengah duduk menikmati kelapa mudanya..! terbersit ketakutan akan peristiwa yang telah terjadi akan lama kepergiannya, tapi hilang denngan segala rasa kerinduan yang begitu mendalam.
Suara jeritan itu mengangu suasana ketenangan kedhaton. Tentu saja membuat penghuninya penasaran, akan tingkah yang tidak beradat.
Apa yang terjadi..! suara tegas nan berat dengan nada kewibawaan seorang abdi sentanu.
Tidak ada apa apa paman, kanda baru pulang.!
Aku tahu kau senang,! Tapi tidak seperti itu kau tunjukkan. Kau harus ajarkan pada anak anakmu bagaimana kehidupan kita yang sesungguhnya.! Itu sangat tidak diterima dalam palebahan ini. Dengan nada yang agak merendah dan pemakluman kembali masuk dalam pintu belakang rumahnya.
Tak menjadi pikiranku, terserah orang lain menyambut kanda atau tidak. Cuma aku berfikir tindakan tadi memang melanggar aturan. Tentu saja itu salah. Aku juga yakin sebenarnya semuanya juga senang dengan kepuolangan kanda. Mungkin rasa kerinduanku dan anak anakku yang terasa begitu lama, terluapkan sudah.
Apalagi paman Joyo juga masih berkeluarga satu Fraksi dengan keluargaku. Aku hanya perlu meminta maaf kepadanya nanti, anggapku dalam fikiran segera kutepis rasa bersalah itu.
Aku ndak mungkin harus berlari mengejar kanda, aku harus bisa menjaga sikapku sebaga wanita kedhaton. Dengan rasa kaki yang gatal ingin berlari, kucoba untuk bertahan. Aku baru saja berbuat kesalahan, tak mungkin aku mengulanginya lagi. Aku bukan wanita baru disini.!
Begitu dekat, rasanya aku ingin berlari menyambutnya, namun kucoba kutepis dengan senyum air mata. Dalam hati, aku juga merasa menyesal dengan diriku. Biasayan aku selalu berias dan mempercantik keadaanku sebagai wanita kedhaton, tapi nyatanya saja aku belum mandi dari pagi tadi. Pakaian yang lusuh, rambut yang tak tergelung rapi, seolah mengibaratkan aku hidup dalam dunia penderitaan.
Ya allah,,! Apakah ini pertanda kepulangan kanda.! Meskipun begitu aku berharap kanda berfikiran begitu padaku, agar kanda tidak pergi lagi dan hidup seperti yang lainnya.
Akhirnya aku bisa menahan diri, ketika kanda menyapaku dan menciumku. Air mata yang rasa ingin menangis juga, tak mau berhenti beriringan dengan suara lirih yang aku layangkan untuk hati kanda. Wajahnya yang dulu putih bersih dengan rambut halus dipipi menyambut kumis yang ditata rapi, janggutnya yang menawan menambah gairah dan rindu yang meledak ledak, kini menjadi pipi yang memerah akibat sinar matahari, wajahnya yang menghitam masih memancarkan menawan dalam wajahnya. Rambut dipipi yang dulu indah dilihat serta kumis dan janggut menawan indah yang dipotong dengan hati hati telah menjadi, bintikan bintikan hitam bulu yang tercukur rapi. Tak mungkin ada waktu untuk mengurus dirinya, apalagi dengan bekerja. Tapi justru membuat dirinya terlihat lebih maskulin dan bergaya. Walaupun agak sedikit berkurang kewibawaannya namun tak mungkin aku berani mengurangi rasa cinta ini untuk suamiku.
Aku memegangnya dan merangkulnya berjalan menuju rumah,! Aku dengar kau hamil dek.!! Mana bayimu..!!
Dengan cepat aku menunjukkan tanganku pada tempat tidur kecil yang telah usang, berubah warna. Dengan senyum kanda melihat TRIBHUNANA tidur dengan lelap. Aku bisa melihat kanda begitu bahagia dimatanya. Lengkaplah sudah kebahagian hatiku..
Diangkatnya Hana, dengan tangan kasih sayang.! Senyum yang timbul disela tidurnya membuat kanda bertambah gairah senyumnya..! cantik sekali anakku ini..!

Mendengar kata itu, aku bingung sontak apa yang terjadi nanti..! kanda,, Hana laki laki bukan perempuan.!! Benarkah..!! justru tertawa terbahak bahak dengan kuat, hingga membuat Hana terbangun dari tidurnya. Kaget lalu menangis..! dia menyerahkan padaku, dan diam. Dengan senyum gembira aku justru malah dibuat heran dengan kanda. Kenapa kanda tidak seperti yang lainnya, begitu banyak orang orang yang menyanggalnya ini aneh, tapi kenapa kanda malah kegirangan. Aku bahagia dan berusaha menepis rasa ketakutan itu, tapi rasa aneh tetap saja muncul..
Tangan jailnya, tetap saja ingin mengangu anak nya. Bibirnya yang manis seperti wanita yang menawan terus dicubit manja dengan gemasnya.. membuat Hana tergangu dan menangis kembali.
Oh ya, Hana..!! itu namanya.? Dengan nada bertanya dengan wajah gembiranya padaku.?
Ya, kanda.!
Dari Siapa.?
Dari Ibu Suri yang Agung.! Apa dia sering mengunjungimu.? Bagaimana dengan Gusti Agung.? Apa dia juga datang.?
Ya, Gusti Agung juga datang dengan Ibu Suri.!
Aku harus datang ke Sawung Pitu malam ini, untuk berterimaksih dengan Ibu Suri.!
Apa aku harus ikut kang.? Apa menurutmu kau harus tingal dirumah.? Lalu bagaimana dengan anak kita.? Apa dilarang membawa anak anak kesana.?
Ageng senyum mengerti maksudnya.’

Siang yang mulai kalah, seiring tumbangnya matahari. Mengalahkan juga panas yang seolah menantang air malam.. suasana lingsir membuat kami merasa nyaman, untuk pergi.! Masih terang untuk dilihat, namun tidak begitu terang,! Entah,, seharusnya ini sudah gelap.! Senja dengan abu awan yang merah menyala di ufuk barat , membuat kami menunjukkan jalan ke Sawung Pitu.
Ketika senja awan merah juga mengakhiri perjuangannya, gelap mulai mendatangi kami, tertepis dengan lampu Dian perempatan jalan yang mencoba membantu. Tiap tiap perempatan diberi penerangan lampu Cublik dengan dibuatkan rumah kecil seperti rumah sesaji untuk umat hindu, dengan atap ijuk agar tidak mati dengan hujan.
Begitu, agak jauh rumah dari sawung pitu ketempat palebahan. Sawung Pitu adalah komplek/paviliun untuk keluarga para raja saja. Tidak ada golongan apapun disitu, melainkan perwakilan perwakilan yang diajukan untuk menjadi selir selir raja serta dayang dayang utama.
Kami memasuki gerbang menuju ke Kedhaton sawung Pitu, tampak 2 orang berpakain ala sorjan, berjaga di dalam gerbang.
Mendekati kami, tak perlu diberitahu. Badan yang berjalan membungkuk dan wajah yang menuduk tanda dia adalah atasan. Senyum adalah tanda mereka mengenali siapa kami.! Seseorang datang dengan pakaian yang lebih rapi, atasannya.. dengan pakaian ala jangkep resmi membuatnya berjalan pelan terlihat begitu anggun dikejauhana malam. Dengan gerakan yang semakin cepat menghampiri kami, dan sesegera mengucapkan salam penyambutan.


Selamat datang kembali Kanda, Kanjeng Gusti.!
Begitu tak sembarang orang berani memanggil kanda, akibat dari seseorang yang telah tak asing lagi.! Ketua para abdi daleman agung. Sudah dianggap sebagai adik sendiri.!
Suhyo bagaimana kabarmu.?
Saya terlihat begitu baik baik saja,!
Bagaimana dengan kanda.? Kanda baik baik saja disana.?
Ya aku baik baik saja.!
Seketika kepala Suhyo merundukkan kepala kepadaku, dengan tangan yang menyambut sembah dikepala, dan melangkah mundur kecil 2 langkah, itulah  tanda sebagai penghormatan.
Bagaimana bisa kau menghormati istriku, tapi kau tidak menghormatiku..!!
Hahahaha... suara gelak tawa memerangi kesunyian malam..
Abdi, ambilkan 3 tandu untuk Kanjeng Gusti.!
Nggeh,, Ndoro agung..!! dengan tangan sembah dan berjalan mundur segera membalikkan badannya, untuk segera mengambil tandu dan bala bantuan.
Terimakasih Suhyo.!
Ah tidak mas,, Ibu Suri yang Agung telah berpesan pada kami untuk menyiapkan tandu bagi keluarga Fraksi Selatan yang belum memiliki Kuasa Abdi tandu (para dayang dan Abdi).



Menunggu sesaat,, tandu mulai datang dengan bantuan abdi yang banyak jumlahnya.
Mula mula tandu besar dengan atap kuning emas nan elok serta diringi dengan Kuasa abdi tandu, mempersilahkan masuk kanda..
Monggo ( silahkan) masuk Kanjeng Gusti., dengan suara yang pelan dan hormat yang luwes.
Masuk duluan dan berputar kembali ke dalam, diringi dengan Ageng dengan tandu yang sedang namun tetap indah, masuk bersama Hana dan Silo duduk disebelahnya.
Dan tandu ketiga, di masuki oleh kedua anaknya Adi dan Cipto karena badannya yang lumayan sudah besar.
Semuanya berjalan beriringan, dikawal oleh barisan abdi dengan rapi.
Suasana sangat hening didalam tandu, karna terbuat dari papan tebal yang diselimuti oleh kain sutera yang indah. Beberapa lubang corak sebagai ventilasi, sekilas terlihat para dayang berjalan beriringan.
Suasana gelap dalam tandu, terlapisi oleh pancaran lampion yang dibawa oleh para dayang, yang mencoba masuk menerobos ventilasi dan menembus kain sutera tipis dan lembut.
Cukup untuk bisa dikatakan luar biasa di dalam keadaan Kedhaton Sawung Pitu. Benar benar kehidupan yang sangat megah..
Aku tidak akan bisa datang kesini jika bukan karena kanda Roso.! Tanpa kanda roso, terlihat benar rendahnya jabatanku di istana ini..
Walaupun tidak semua orang bisa memasuki tempat ini, namun paling tidak sekarang aku bisa melihat diriku dan gelar apa yang ada padaku saat ini.
Suara hentakan pelan, menyadarkan khayalanku. Kulihat wajah sinar yang masih menyimpan manis dalam tidurnya, tidak membangunkannya.  Aku mengecupnya kembali dan menambah ke nyeyakan tidur bayi nya.
Apa yang terjadi diluar.?
Gusti Putri Ageng, silahkan turun.. Gusti sudah sampai ketempat  Sawung Pitu.!
Aku mulai menyuruh Silo keluar dahulu, membenarkan serta merapikan baju Bindaru biru muda yang kupakai. agar terlihat lebih rapi. Telah lama aku tak memakainya, terakhir ketika kanda ditunjuk menjadi seorang kepala adat, acara resmi. Baju Bindaru adalah baju yang dipakai untuk pertemuan pertemuan terhormat atau bisa dikatakan untuk kalangan atas saja, yang bisa memakainya. Tapi seharusnya ketika seseorang telah dinobatkan menjadi seorang punto dalem, harus memakai baju Bindaru untuk perempuan dan memakai Jangkep lengkap untuk yang laki laki.
Perlahan kubuka tirai sutera, melihat kanda telah menungguku didepan altar. Kusambut tangan kanda, dan kuajak Adi dan Cipto dengan dibelakang. Adi, kau jaga sikap adik adikmu ya,.! Jangan berlebihan jika didalam, dan ikuti aturannya,.
Apa kau tidak mengajarkan kepada mereka.?
Aku merasa itu sangat menekan jiwa, jadi aku ajarkan kepada mereka yang disukainya saja.

Tak apa, tak perlu khawatir.? Gusti Agung dan Ibu Suri akan memakluminya. Kau tidak perlu tegang.. santaikan dirimu, dan buat dirimu secantik mungkin..
Senyuman gurau, mengiringi masuk kedalam aula pertemuan, dituntun oleh para dayang Kedhaton,
Kepala dayang, bagaimana kabarmu,? Kanda menanyainya.
Aku baik gusti, tugasku melayani Gusti Agung. Jadi aku tidak diperbolehkan sakit.! Dengan senyum kecil dia menjawab, dan melirik melihatku kemudian menundukkan kepalanya, sebagai penghormatan.
Lama sekali tak bertemu denganmu Gusti Ageng.?
Menjawabnya dengan senyuman manis..
Silahkan duduk dan tunggu yang mulia Gusti di sini,.?
Jika gusti membutuhkan sesuatu, silahkan panggil dayang disini.! Aku harus kembali ke kediaman hamba. Memberikan hormat kambali, dan segera memutarkan tubuh tuanya, yang terlihat masih kuat.
Terdengar suara penjaga mengumandangkan kedatangan Kanjeng Gusti Agung.!
Gusti Agung telah datang..!! di iringi suara Gong, yang menandakan semua harus berkumpul, untuk memberikan penghormatan.
Seluruh Dayang dan para Punto Dalem datang memberikan hormat, duduk berjejer di iringan jalan seraya memberikan hormat.
“ Sembah, Hormat kawulo Kanggem Kanjeng Gusti Agung” tutur kepala Kasim yang menguasai seluruh dayang dan punto daleman agung jumenengan. Suaranya terdengar lirih dari luar, namun jelas ku dengar dari dalam. Salam hormatnya mewakili seluruh istana para dayang dan para Abdi dalem.
Seraya menoleh memberikan aba aba untuk memberikan hormat, dengan menundukkan kepala kepada seluruh para dayang, yang diperjelas dengan Kepala Dayang serta Kepala Abdi Dalem yaitu Kang Mas Suhyo.
Berjalan dengan di iringi para dayang Pengawal khusus, berjalan dengan amat hati hati dan anggun, apalagi menggunakan pakaian yang amat sempit yang  terlalu membatasi keleluasaan gerak. Begitu dengan yang Mulia Ibu Suri, berjalan beriringan dengan menggunakan baju Bindaru dengan Hiasan Corak yang Indah. Hiasan  Konde mahkota Emas perlambang sebagai Ratu dari Istana Kedaton, menambah gemerlapan menyilaukan mata, sangat indah. Tubuhnya yang tua tak bisa ditutupi, namun kharismatiknya tak bisa untuk dihindari, sepertinya Dewi Pengasih selalu ingin bersamanya.
Menghadap pada kepala Kasim.’
Kanjeng Gusti Agung,’
Kanjeng Gusti Suroso dengan Istrinya telah menunggu Gusti Agung dari tadi.! Apa Gusti akan menemuinya.??
Ya,’ antar aku kesana.!
Nggeh, Gusti..!
Dengan tangannya mengacungkan jempol dan menggeser bahu tangannya, untuk mempersilahkan yang tertua terlebih dahulu. Dengan badannya yang membungkuk mengikuti dari belakang, diikuti oleh dayang Khusus Pengawal. Berakhir seluruh penghormatan dan kembali ke kerja bagian masing masing, dikomandoi oleh kepala dayang.
Muncullah Kanjeng Gusti dengan Ibu Suri yang Agung di iringi puluhan pengawal dayang dan Abdi dalem terlihat di lubang lubang tatah corak di bilik papan. Kanda langsung tegak dari duduknya, dan mulai aku tegakkan tubuhku dengan tergopoh mengendong bayi. Gusti Agung datang, cepat berdiri.!!
Aku menyuruh anak anakku, yang tengah asyik bermain baju baru mereka dan menyantap buah buahan yang telah disediakan dimeja.
Dengan seadanya aku mencoba merapikan baju Bindaru yang kukenakan dengan keterbatasan tangan kanan, tangan kiri menggendong Hana kecil yang masih tengah asik tertidur. agak susah karna bajunya sendiri memang sangat tebal berlapis lapis.
Pintu bilik dibuka seluas luasnya.!
Kanda menyambutnya dengan senyuman, namun diikuti dengan pemberian hormat.
Bagaimana keadaan Yang Agung.?
Aku baik baik saja, Roso.! Lama tak bertemu denganmu.! Sahabatku mengatakan aku harus menjagamu dengan benar benar.!
Kanda roso tersenyum menanggapinya.! Gusti Agung telah menjagaku dengan sepenuh hati. Do’a Gusti yang membuat ananda masih hidup saat ini. Terimakasih Gusti masih menggangap Ayahanda sebagai Sahabat Gusti.
Aku memintamu jangan pergi lagi.!
Tetaplah di istana tua ini bersamaku.! Hiduplah tenang di istana politik yang kejam ini dengan keluargamu.
Lama sekali aku tak melihat cucu cucuku, tak terasa sekarang telah tumbuh besar.! Melihat Adi, mengangukkan kepala.! Dan cipto mengikutinya.!
Tingkah ini membuat Gusti Agung tertawa, terlalu banyak hal hal yang dilewatkan selama ini. Istana keraton membuatnya lupa akan keadaan semuannya. Politik yang lembut, kasar, serakah, kejam, serta halus membuatnya terus waspada mengawasi jalannya istana keraton.
Keadaan keraton membuatku buta akan keasadaranku.!
Kanda,! Suara lemah lembut memberikan kekuatan pada yang mengeluh.!
Yang Agung, harus tetap tegar dan menjalankan kewajiban sebagai raja di istana keraton ini.! Itu lebih penting daripada harus memikirkan anak anak hamba.! Senyum bahagia.
Ayo.!
Aku ingin mendengarkan ceritamu disana.? Ceritakan padaku apa yang kau dapatkan.?
Dengan semangat mengajak duduk menghampiri kursi.
Aku menyembah bungkuk sekali untuk memberikan penghormatan pada Yang Agung.!
Dengan posisi tersebut, aku menggendong anakku dan terbangun dari tidurnya. Karena terkejut Hana menangis, terdengar tangisannya yang memilukan hati. Suaranya yang jernih mengundang kepiluan yang mendengarnya.
Melihat adiknya menangis, tingkah Cipto kembali urak urakan. Dia naik kekursi dan menyentuh kening adiknya. Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya, namun apa yang terjadi.
Disentuh oleh kakaknya, Hana terdiam.! Ku urungkan niat memarahinya.!
Semuanya menjadi tersenyum melihat hal itu.!
Itukah anakmu.?
Itukah bayi yang membuat gempar di istana keraton ini.?
Aku ingin melihatnya,! bukankah dia sangat manis katamu.? Menoleh ke Ibu Suri.
Ageng.! Yang mulia ingin melihatnnya. Bolehkah aku menggendongnya.?
Ageng berdiri dan berputar memberikan Hana ke Ibu Suri Yang Agung.
Ibu Suri membawanya, namun mungkin tidak nyaman didekapan ibu suri, sehingga menangis kembali. Ibu suri mencoba menenagkan Hana, dan memberikannya ke Yang Agung.!
Dengan hati hati Gusti Agung menggendongnya, dengan senyumnya yang lucu serta janggut putihnya yang ditempelkan ke tangan Hana, ingin membuat kelucuan.
Terlihat senang tampak diwajah Gusti Agung menggendongnya.!
Anakmu memang berbeda.! Benar benar sangat berbeda.! Wajahnya sangat membuat tenang hatiku. Entah kenapa biasanya aku tak seperti ini.? Wajahnya sangat menawan sekali.? Sayang dia laki laki. Jika tidak, akan aku jadikan dia sebagai istri dari Wijoyo.!
Dengan senyum terkekeh ia meriuhkan tawanya melihat Kanda Roso yang tertawa malu.!
Tangan Hana menarik janggut Yang Agung yang putih panjang, yang ingin mencari perhatian dan membuat Gusti Agung menoleh padanya.! Namun tawa tersebut, sontak hilang ketika tanpa sengaja Gusti Agung melihat sesuatu berkilau hijau muda di kening Hana, tepat diantara kedua alisnya.! Sinar yang muncul tersebut berubah menjadi kristal yang indah dikeningnya.! Tampak tak begitu asing dengan kristal tersebut.!
Secara tiba tiba kristal tersebut menghilang kembali dikening Hana, dan mata Hana berubah memancarkan sinar hijau sekilas.
Kejadian ini membuat tubuh Yang Agung gemetar, tubuhnya bergoyang goyang tak bisa menerima kejadian diluar kepala yang terjadi padanya.! Ia memberikan Hana kepada Ibu Suri.!
Melihat wajah Gusti Agung, semua menjadi bingung. Semua mata memandang kepadanya, termasuk Adi dan Cipto. Bocah 2 itu tak tau apa yang sebenarnya terjadi, mereka masih memegang makanan ditangannya dan tengah asyik melanjutkan makan nya.
Kanda, apa yang sebenarnya terjadi.? Tanya istrinya.
Tidak apa. Tidak ada apa apa.!
Semua masih menyisakan kejanggalan dihati, termasuk Ibu Suri Yang Agung.! Dalam hatinya ingin mengklarifikasikan kejanggalannya nanti.
Apa kanda sedang tidak sehat.? Apa perlu aku memanggil dayang.?
Tidak, Ragem.! Tidak perlu.
Anakmu sangat tampan, dia memegang peranan besar dalam kehidupan ini. Aku berharap dia terdidik menjadi anak yang baik.!
Mulai timbul senyum, diwajah Ageng atas pujian dari Yang Agung.
Namun yang lain masih merasa penasaran, karena wajah Gusti Agung masih menyimpan wajah keheranan bukan wajah bahagia. Namun ageng tidak mau berfikir tentang itu, baginya rasa penasaran yang selama ini tak diketahui tentang keanehan yang terjadi pada anaknya, paling tidak terkuak sedikit dari Yang Agung.­
Apa pertemuan ini masih ingin Kanda teruskan.?
Aku pikir kesehatan kanda tengah menurun karena kelelahan.? Aku akan memanggil dayang.! Dengan sigap Ibu Suri memanggil para dayang, hingga Gusti Agung tak sempat untuk melarangnya.! Ia hanya melihat tindakan istrinya yang begitu cepat, tentu saja membuat dirinya merasa heran dengan tingkahnya.
Kepala Kasim.! Kau diluar.!
Segera memasuki dengan jalan berjongkok. Jalannya begitu cepat seolah telah tahu keadaan dari nada suaranya.
Nggeh, gusti.! Saya disini.
Panggil segera Abdi tandu untuk membawa Kanjeng Gusti Agung kembali ke biliknya.
Nggeh Gusti.!
Berjalan kembali memutar badannya, dan segera memanggil kepala Abdi Punto Dalem.
Kepala Suhyo.! Dengan suara keras ia berteriak diluar bilik.
Yang dipanggil segera datang, dan memberi Hormat.! Ada apa Ndoro kasim.?
Segera bawa tandu yang mulia kemari. Beliau ingin kembali ke biliknya.
Ya,.? Apa ada sesuatu terjadi.? Kenapa cepat sekali.?
Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.? Aku diperintahkan Gusti Putri untuk menyuruhmu memanggil tandu.!
Ini membuat Suhyo heran dan bertanya dalam hatinya. Apa yang terjadi didalam.? Apa Gusti Agung marah dengan Kang Mas Roso.? Dalam hatinya mencoba menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Apa lagi yang kau tunggu.! cepat lakukan.!!
Suara bentakan keras, membuatnya terkejut dan sadar akan tugasnya.
Ia, siapkan saja Yang Agung. Aku akan membawanya kemari segera.!
Kepala kasim kembali dalam bilik susukunan untuk menemui Prabu.
Tandu telah disiapkan, Gusti.!
Kanda harus istirahat. Kanda harus kembali ke kamar kanda.! Sebaiknya pertemuan ini ditunda dulu. Kita bisa membahasnya lain waktu. Benarkan Ageng.?
Yang ditanya menoleh ke suaminya.
Keadaan Gusti jauh lebih penting.! Jawab Kanda Roso dengan maksud meyakinkan.
Ibu Suri tersenyum membenarkan.
Yah, dengan menganguk kepala ia menoleh dan mengangkat tangannya. Dibantu oleh istrimya.
Panggil para dayang, dan bantu yang mulia.! Memerintahkan kepala kasim.
Aku harap kau tidak tersinggung aku seperti ini.?
Tidak Yang Mulia.! Aku senang Gusti mau bertemu dengan Hamba.! Dengan suara lembut Ageng menjawabnya dengan wajah menunduk.
Kemudian Gusti Agung, memandang Kang Mas Roso.
Nggeh Gusti.! Kang Mas Roso menjawabnya dengan singkat namun pasti.
Aku ingin berbicara denganmu berdua saja.! Datanglah ke bilikku. Pengawal kerajaan akan menjemputmu besok.
Kang Mas hanya mengangukkan kepala..! mengerti
Menambah pikiran kegelisahan hati Gusti Putri.!
Cepat bawa Yang Mulia.! Mengambil alih tugasnya sebagai pembicara.
Roso, kalian pulanglah dulu. Aku yakin perjalananmu pasti sangat melelahkan dan aku rasa waktu sehari tidaklah cukup memulihkan staminamu.. Istirihatlah..! kau boleh beristirahat sesukamu, aku akan menyampaikan pada yang mulia jika kau memang masih membutuhkan waktu untuk beristirahat. Aku yakin kanda juga pasti akan mengerti keadaanmu. Dengan senyum Ibu Agung menjawabnya..
Tidak Ibu Suri, aku fikir bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Gusti Agung pada hamba. Lagipula Gusti Agung lebih penting daripada apapun yang saya lakukan. Tentu saja ini tidak sebanding dengan lelah saya Ibu Suri..
Dengan rasa bangga sekaligus rasa masam di senyum bibirnya, ia memandang wajah Ageng..! yang dipandang menundukkan wajah, tak punya kuasa.
Aku bangga padamu Roso..! Palebahan bangga memiliki Abdi Jumenegan sepertimu. Dan kau Ageng,, kau beruntung mendapatkan suami seperti Roso.! Berbahagialah
Dan ingat pesanku Ageng..! berusahalah Ageng untuk kebaikanmu sendiri serta kebaikan yang lainnya. Ibu Suri bermaksud menyindir Ageng untuk bisa mengerti maksudnya, dan sangat berharap mengerti maksud yang disampaikan. Melihat wajah Ageng, berubah berusaha mengerti makna dan maksudnya. Dan membungkukkan badan berarti mengerti. Mencoba mengagalkan keinginan kanda untuk datang dengan segera di kediaman Gusti Agung.